Sunday, December 28, 2014

Sajak-sajak Laela Awalia

Selama Hujan Datang
Aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin
karena anginnya membawa aroma kerinduan
; juga bau hujan
ia selalu saja menggoda seperti perempuan
; kemudian suara gemericiknya
hampir-hampir membuat aku lupa dimana aku berpijak

seperti malam ini,
perempuan yang kunamakan hujan
datang tanpa mengetuk pintu depan
wajahnya seperti kemarin malam
tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum

tiba-tiba ia bilang;
    aku akan tinggal disini malam ini. angin sedang sibuk mengantar dendam
pada seseorang. aku takut pulang sendirian. apa kau punya tempayan?

aku hanya punya sebuah kolam
tak terlalu besar memang
tapi kurasa cukup untuk sekedar membuatmu rehat sebentar
di samping kamar, di bawah jendela yang beratap teritisan
kau bisa bermain bersama ikan-ikan
juga berhelai-helai daun durian yang berguguran –aku belum sempat bersihkan, maaf-

tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum
perempuan yang kunamakan hujan tersenyum melihat kolam
berlarian mengejar ikan
menari bersama guguran daun durian

ooo

aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin. karena anginnya membawa aroma kerinduan
; lalu bau hujan
; kemudian kolam di bawah teritisan

ooo

sudah berapa lama hujan ini datang?

(aku mendapati diriku menatap jendela yang terbuka selama hujan datang. airnya jatuh memenuhi kolam di samping jendela. ikan-ikan berlarian, terkadang bersembunyi di bawah daun durian yang gugur dan dengan kebetulan atau tidak, jatuh ke kolam. dua hari belum kubersihkan...)

Natar, 18 November 2014



Secangkir Malam

Selamat malam, akasia
secangkir kopi hitam telah kuseduh semenjak senja membingkai dirinya lewat jendela
harusnya kau datang lebih awal
agar kau bisa menikmati sekumpulan asap tipisnya melewati bibir cangkir yang warnanya tak lagi putih itu
bukankah kau suka menatapnya berlama-lama?
kau bilang kau serasa menatap perempuan sedang menari
kau datang terlalu larut, akasia
ada apa?
Ooo

sebenarnya telah aku kabarkan kedatanganku lewat angin yang semilir masuk dalam beranda rumahmu
aku akan terlambat pulang, aleya
sebab tapakku semakin rapuh
sedang perjalanan terus menjauh
kau pun tahu ini musim tak juga turun hujan
hingga debu mengaburkan pandanganku
ah, ini hanya alasan, kau pasti bilang begitu
tapi benar, aleya
ooo

apa kau tak sadar aku telah menunggumu beberapa musim, akasia?
hingga secangkir kopi yang kuseduh sejak senja membingkai dirinya lewat jendela itu tak lagi berasap putih
ia tenang
setenang malam yang pelan-pelan merajut mimpi bersama rembulan
kau datang terlalu larut, akasia
kau selalu punya alasan

Natar, 3 Oktober 2014


-----------------
Laela Awalia, lahir di Natar, Lampung Selatan, 5 April 1986. Puisi dan cerpennya dimuat di beberapa media massa dan antologi bersama. Buku puisinya: <i>Nyanyian Awan dan Hujan<p> (bersama Angga Adhitya Prasojo, 2010).


Lampung Post, Minggu, 28 Desember 2014

Sunday, December 21, 2014

Sajak-sajak Yuli Nugrahani

Ruang Tawang

Kuntum-kuntum awan
meriap dalam peziarahan
dan tarian kaki lipan
menghisap pandangan.
Aku menguburkan kenangan
pada hujan pada dedaunan
pada kerlip masa lalu
pada hasrat bertalu.
Selagu kulepas langkah
sekata kuhempas batas
terpisah dalam pelukan
terurai dalam pemakluman.
Secuil kusimpan
di ukir peraduan
di balik kelambu
di sesak rindu.

Hajimena, September 2014


Di Telapak Tanganmu

Pagi menggenang
beriap mengirim embun tua
tanpa pelupuk mata
lidahku menjangkau surga
mencicip khamar murni berlaksa
dari tubuh terlumat
dari aliran keringat
suaraku menjangkau dunia
sebatas kau berada
dalam hati tersengat
dalam jiwa yang penat.

September, 2014


Jentera 

Aku menyimpan tubuh dalam lipatan jemarimu
terayun bersama mantra bersama dupa
bersama harum jalapa di ujung senja
melesapkan pandang pada mata membelu
tertawan tawa merekah di sayap belalang
ikut bergerak di lengkung ilalang
o, jiwa berkehendak, lepaslah menggalah awan
o, masa berarak, jangkaulah pikiran tua terseduh impian
o, semesta, o, gelenyar, o, sang pencipta surga
tangan tertangkup segala puja
kaki tersimpuh kerinduan
hasrat berkeriap melekatkan nestapa
pada raga tanpa rupa
pada suka tanpa suara
utuh berpeluh
wangi dalam putaran.

2014


Sebuah Jeda

Siang menyerahkan mata
lewat secangkir teh
dalam serpihan hangatnya
dalam riang meleleh
kaki-kaki yang lunglai
menumpang langkah
di antara senyap menderai
di ujung sula di pangkal cula
andai bisa membeli lupa
andai pintu tak pernah terbuka
andai tasnim berhenti bicara
pun tetap akan ada tanda
karena jurai cemara
telah terjangkau dalam bayang
karena tungkai lelara
tetap semarak laksana biang
bagi timbunan kata
bagi sebuah jeda
tak ada yang salah
saat yang tertinggal hanya lelah.

September, 2014


Saat Rawan


menjelma
sore meringkuk di batang sawi
dengan setengah cangkir kopi
tanpa gula, tanpa senda
sembunyi.

September, 2014


---------------
Yuli Nugrahani, lahir tahun 1974, tinggal di Hajimena, Lampung. Aktivis bidang justice and peace. Mulai memublikasikan puisi tahun 2013. Selain puisi, ia juga menulis prosa yang dimuat di berbagai

 

Lampung Post, Minggu, 21 Desember 2014

Sunday, December 14, 2014

Sajak-sajak Fitri Yani

Di Bangku Penumpang

saat langit membiarkan pintunya terbuka
dan fajar melangkah
dengan kaki-kaki yang rapuh
duduklah ia di bangku penumpang
roda-roda berderit di dadanya
ribuan kalimat susun-menyusun di matanya

langit memandang hampa
pohon-pohon memipih di ujung cakrawala
wajah seorang wanita melintas di kepalanya
wajah yang samar dan penuh memar
hingga ingatannya surut ke suatu sore
di lorong gelap
ke seorang lelaki yang mencuri suaranya
tepat tiga hari sebelum ia melihat warna awan
berubah merah
dan darah mengalir dari landai pahanya

kini di bangku penumpang
wajahnya lengang dan berkabut
lepas dari ikatan yang ia namai keluarga
lepas dari tangan-tangan yang membelai
sekaligus mencengkramnya

di bangku penumpang
dengan wajah penuh hujan
ia lafalkan nama-nama masa depan
yang kelak akan tumbuh di rahimnya.

(Tanjungkarang, Agustus 2014)



Kenali1

kami hamparkan bunga-bunga sekala2
dari hutan para moyang
kopi dan lada
rumah dan kebun kami kerap terbakar
tubuh anak-anak kami
dijadikan tumbal
dan pakaian wanita kami
dikoyak-koyak penyamun
kami menarikan tarian sekura3 senantiasa
bagai ulat di dalam buah nangka
bagai ludah merah penyirih tua
agar kalian menyaksikan dari jauh
rumah-rumah panggung
yang kehilangan tangga
ladang-ladang kopi
yang kehilangan tanahnya sendiri.

2014

1 Kenali: nama daerah di Lampung Barat
2 Sekala: tumbuhan hutan yang bunganya menjadi lambang mahkota pengantin perempuan
3 Sekura: pesta adat di bulan Syawal, saat orang-orang mengenakan topeng dari kayu atau kain


Cukuplah Asmara

bila bahumu matahari pukul delapan pagi
pinggangku rumah berkabut di pinggir hutan

bila dadamu badai laut cina selatan
tanganku angin hijau di atas rerumputan

bila punggungmu kota yang hampir mati
bibirku taman yang selalu ingin dikunjungi

bila bayangmu mercusuar malam hari
tubuhku cahaya kapal yang menari-nari

bila harapanmu rumah di ujung tanjung
rinduku bunga magnolia di samping jendela

bila kata-katamu sulur-sulur hujan
kalimatku pelangi yang pecah di atas bebatuan

bila setiamu kabut yang mengambang di danau
jiwaku cahaya yang berdiam dalam jiwamu

bila hasratmu lebur kedalam hasratku
maka asmara telah cukup untuk kita.

(September, 2014)


------------
Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Berkesenian di Komunitas Berkat Yakin, Lampung. Menulis puisi, prosa, dan naskah drama. Buku puisinya: Dermaga Tak Bernama (2010) dan Suluh (berbahasa Lampung, 2013).



Lampung Post, Minggu, 14 Desember 2014

Sunday, December 7, 2014

Sajak-sajak Dodi Saputra

Gugur Daun
Sesekali sepi tanpa purnama
Paruh-paruh bergelantungan pesawangan
Demikian risalah serupa di rindangan atap rumah
Telah rukun gugur daun, keriput petang melayang
Dalam lamunan pertanda munculnya kunang-kunang
Pengantar tidur tanpa dengkur
Menabur daun-daun menggugur
Untung saja ada kilasan pelita
Jendela sudut kota

Meliuklah sesaat, lelah merayap hawa-hawa tenang
Sampai pula di pipi dan kening kerut
Selebihnya menggambar sketsa bersama rambut
Lekuk-lekuk hidung terpajang penghuni di hamparan batang mahoni
Hai, sesekali sengaja kutinggalkan pendaran pelita untukmu, kanda
Aku ini bertabur gugur daun rindang
Limpapeh rumah gadang.

Sarang Gagak, 2013


 
Tarian Kunang-kunang

Penantian kereta senja kian menjemukan
Setialah rindang memayung perdu dedaun tua
Begitulah masa terus melaju menemani kepulangan
Benih-benih yang tertanam di rahim
Dua puluh masa silam
Wajar,
Sekedar menunggu tautan jerit, ilham dari langit
Datangnya bisa malam ini    
Bahkan menguap bersama embun
Selunak ubun-ubun
Mengendap-endap
Menarilah kunang-kunang, bertebaranlah kawanannya
Datangnya sesaat saja, bersahaja

Hus, nanti ia malu dan jatuh ke tanah
Biarkan ia memungut kabut
Merangkai pelita yang berderai bersama hujan
Aku tetap menggeleng berulang-ulang
Seraya menunduk
Kepulangan itu menyambar kunang-kunang pilu
Surutlah malamku.

Sarang Gagak, 2013


Karangan Bunga
Aku harus belajar memelihara bunga
Musim gugur yang merelakan tangkainya
Ranting tua telah berjalan dua masa
Belah biji turut jatuh setibanya

Luruh
Mahkota bunga lain mendekat
Pagar beruntai sulur mengulur tidur

Aku hendak memelihara bunga
Kepalaku dari pusaran rona merah muda
Berduri tangkainya mengeras bayangnya

Rebah
Menjalar hingga penghujung
Semerbak sedap malam, tiang karam

Aku kini belajar memelihara bunga
Menggembur akar muda dalam-dalam
Menyambung tiang sanggahan batangnya

Aku ingin mencium bunga-bunga dalam karangannya
Memagut kematangannya
Di masa yang berbeda, mewangi bersamanya.

Sarang Gagak, 2013



--------
Dodi Saputra, lahir 25 September 1990 di Desa Mahakarya, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Saat tengah menyelesaikan studi S-1 di Jurusan Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Sajak dan cerpen dimuat di berbagai media dan antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 7 Desember 2014

Sunday, November 30, 2014

Sajak-sajak Muhamad Arfani Budiman

Ritme Hujan

di luar ada yang bergetar
merobek daun jendela
lagu hujan menjadi nada minor
bunga-bunga kuncup di hisap kumbang
lalu dengan basah doa kau menggil
di balik cermin menyiasati luka
bersemayam dalam bunyi jarum jam
bergeming sebagai isyarat rindu
pecah di rahim waktu

2014


Ketukan Hujan

bulir-bulir gerimis
jatuh di raut bumi
sebagai isyarat rindu
deras sebagai hujan
di sudut matamu
yang di asah kantuk
kelebat angin membelai wajahmu
meniupkan ruh kesunyian
menuju langit temaram

2013


Perempuan Hujan
:Jasmine Azizah

jika senja luruh
saat azan menggema
menuntun langkah kaki kita
merangkai sebongkah mimpi
kau sebagai perempuan hujan
membasahi bumi dengan getar
kerinduan pada sekujur batu
dalam tempurung waktu
wajahmu menari bersama luka angin
menaburi air kata-kata menuju napas puisi

2014


Sebelum Magrib

langit senja dalam kuku waktu
menembus celah kerinduan
yang tebersit di alis matamu
sebelum magrib raib
ada yang gaib di tengah perjalan
seseorang dengan tangan terbuka
meleburkan doa-doa dalam pigura kesunyian

2013


Kepada Hujan

kelebat angin mencumbu
musim-musim yang di ramalkan
dalam ketukan sunyi wajahmu
menebas jarak melipat luruh daun-daun
kepada hujan aku titipkan ruap cinta
bergemuruh menuju debar jantungmu
rekah sebagi kuncup-kuncup bunga

2013


Kelana Luka

dengan langkah gontai
kau merestui musim
dengan garis tangan yang kusut
melayarkan doa pada laut
kesedihan selalu bergaram
bersemayam dalam bahasa ombak
sebagai angin menyusuri lekuk tubuhmu
memahami perjalanan dengan alpa
kelana luka mengerat di jantung pujangga

2014


-----------
Muhamad Arfani Budiman, bergiat di ASAS UPI. Buku puisinya: Pengakuan Bulan (2013).


Lampung Post, Minggu, 30 November 2014

Sunday, November 16, 2014

Sajak-sajak Robi Akbar

memupuk sunyi

sekarang apa lagi yang kamu inginkan?

cinta yang hampir tak dapat kita pertahankan
meluruhkan malam yang kesepian
di antara rinai gerimis
yang membasahi percakapan demi percakapan kita
tentang keikhlasan
dan nasib yang selalu gagal
kita ramalkan
selalu berbalik antara bayangan
dan kenyataan
cinta kita lebih serupa bunga raflesia
indahnya hanya sepasang mata kita
yang saling berpandang-pandangan
selebihnya
hanya kecemasan di hati
di dalamnya kita memupuk sunyi

bi’2014


pintu


aku menyelam
di kedalaman lautanmu
jiwaku sendiri
bersunyi
bersama terumbu karang ikan
dan cumi-cumi
sebab dataran-
hidup terlalu semerawut
seperti benang yang kusut
nasib sial
dan masa depan sulit diramal
kudaki relung gunung-gunungmu
puncak kesadaran
yang telah berkali-kali melemparkanku
ke tengah jurang
sebab lembah selalu pasrah
menampung sembah
zikir dan ziarah
sampai kematian
menjadi pintu
menjadi jalan menuju rumahmu

bi’2007-2013-2014



berjalanlah di sampingku

jangan takut
aku akan menjagamu dari segala kemungkinan
berjalanlah di sampingku
biarkan saja
segala cuaca
mencari celah untuk meluka
jangan hiraukan
meski malam
mendadak kelam
bulan dan bintang-bintang terbenam
aku akan menjagamu
menuntun ayunan langkahmu
sampai ke tuju

bi’2014


telah sampaikah kita 1

di setiap simpang
selalu
kudengar degub kecemasan di dadamu
begitu kencang
seperti burung-burung yang berlepasan
tapi di setiap kepakkannya
hanya
bayang-bayang dan berjuta kenang
menghantu dalam benakmu

bi’2014


sajak pesanan

apa yang kamu tunggu?

secarik sajakku akan menusuk kenangan
dan bayangan
di hati dan benakmu
seperti onak
bagi percintaan kita yang tak pernah direstui jarak
di sini
di kotaku
selalu kusisipkan sisa kenangan
pada sepotong bulan
yang pernah menjadi saksi cinta kita
apakah di kotamu
jalanjalan dan pasir pantai itu
masih menyimpan buram bayanganku?
entahlah
selalu ada celah
dari pikiran
dan sisa kenangan tentang kita
untuk merasuki luka
di pangkal perih hati
sekarang
sebelum kabut berangsur surut
ke arah pagi yang penuh kemelut
biar kuhadapi berjuta kalut
hingga malam kembali menjemput

bi’2014


----------
Robi Akbar, lahir 3 Oktober 1978 di Bandar Lampung. Mulai menulis sejak 1998 ketika masih bergabung dengan Teater Satu Lampung. Karya pernah dimuat di koran dan beberapa antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 16 Nevember 2014

Sunday, October 12, 2014

Sajak-sajak Hudan Nur

Selasar Dirundung Mara

(darahnya berjanji untuk menyetiai salam bagi pengikut imam mahdi)

dalam sekejap
malam menjadi padang piatu
segerombolan singa menghambur teror
menggedor-gedor ingatan masa lalu

seorang ibu bermata sepi
mencari lamunannya di sudut jendela
anaknya yang tualang
sudah hilang ditelan bayang-bayang


ia tidak tahu
hari-hari bukan selepas kenang
menggandeng kesetiaan jihad mengundang mara
menikam jejak lelaku di tembok penyangsian

(darahnya berjanji untuk mengkhatamkan salam bagi syech antah berantah)
 
aku tidak bisa bercerita padamu
bila esok ditelan bumi
kesetiaan macam apa yang akan kugenapi
sementara burung-burung selalu pulang mengantar senja
dan kau mengantar ketololan yang purna!


Teras Puitika, 2014



Menyusuri Gerbang Frankfurt dan Kota Gaib Zurich Membuatmu Yakin akan Mendapati Pusara Nietzsche Leluhur Opel yang Didera Sepi Sepanjang Musim
: kepada Adin

inilah jalan yang diberkati sepanjang Wiesbaden. daun-daun berhati malang jatuh ke arah timur. tepat disebuah musim gugur yang datang berantakan, membebat semua isi kepalamu dan tanpa diketahui meracuni aorta dan mimpi-mimpi keramatmu. mereka beristirahat di matamu, Russelsheim masih muda ia tidak tahu ada roh jahat yang menempel di saku bajunya.

inilah jalan yang diberkati sepanjang Wiesbaden. siapa yang percaya jenazah Dostoyevsky di Siberia yang diratapi 40.000 rakyat akan juga didera sepi. bukan lantaran cinta yang morat-marit, tetapi kesinisannya kepada janji-janji kitab suci yang enggan menghampiri nasibnya. dan jadilah mereka penghulu rasul setengah-setengah.

inilah jalan yang diberkati sepanjang Wiesbaden. seorang paroki mengenalkanmu kepada Tuhannya, ia katakan bahwa kebiasaan Tuhannya dan Tuhanmu itu sama, sama-sama menyukai warna, sama-sama mencintai bunga, sama-sama berhati semesta. lalu ia memberimu sebuah lukisan, nun di sanalah malaikat pencabut nyawa berkeliaran. terbang dari dahan satu, melompat ke dahan lain dan meranggas ke daun-daun pilihan untuk mengkhatamkan episodenya. tak ada yang lebih sunyi dari jalan-jalan keberkatan, di jalan puisi dan simpang-simpang waktu hanya melahirkan ramalan, takdir sebuah desa yang tak terbaca malapetaka akan ikut hanyut ke gorong-gorong musim dan larut sebagai lelaki lunglai yang kalah dalam metafisika dadu.

inilah jalan yang diberkati di sepanjang Wiesbaden. seorang ibu bermata sepi duduk di kursi tuanya. Annaslawoska masih menunggu putranya pulang, setelah dikabarkan oleh serdadu  bahwa ia tersesat dan tak bisa pulang dari belukar di kepalanya sendiri. beliau percaya pada Tuhan yang maha semau-mauNya kalau kabar baik akan datang seiring pergantian musim yang terlanjur mengikis cat-cat di tembok berandanya. lalu waktu menggulung ingatannya ketika Nietzsche dilahirkan, angin mengetuk kaca jendelanya, bulan tiba-tiba berkepang dua dan malam menjadi pendek dirampok jam-jam yang tiba-tiba pergi tanpa salam. ia tidak pernah diberitahu oleh musim kalau putranya sudah lama disekap takdirnya sendiri.

inilah jalan yang diberkati di sepanjang Wiesbaden. tak ada yang tahu Schlachthof menjadi belia setelah penjagalan hewan-hewan disulap menjadi tempat anak-anak muda melingsirkan hari yang dikemudikan cuaca. namun dalam sekejap jam-jam kembali pergi tanpa salam. jalan-jalanpun lengang setelah mengetahui bahwa tak ada kabar ke mana musim-musim sebenarnya bermukim!

Teras Puitika, Oktober 2013


-----------
Hudan Nur, lahir di Banjarbaru, 23 November. Menggeluti dunia sastra sejak 1995. Mulai menyasarkan karyanya sejak 2000. Pernah mengikuti sejumlah event sastra, menggagas Sanggar Nanang Galuh Bengkel Sastra 2001, Komunitas AUK, Komunitas Teras Puitika. Tinggal berpindah-pindah. Pernah menjadi peserta Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) (2007).


Lampung Post, Minggu, 12 Oktober 2014

Sunday, September 28, 2014

Sajak-sajak Kiki Sulistyo

Mata Gunting

sepasang kembaran di hadapan lembar surat lelang
tajam dan menyakitkan bagai lontaran batu rajam
apabila dikedipkan keduanya, artinya perang sudah diumumkan
tangan yang gemetar oleh amarah dan darah yang mekar
seperti kubis mawar

orang di rumah menunggu bunyi renyah dari lembar yang terbelah
meski sangsi apakah bersiap mengungsi atau memilih mati
di atas surat, tanggal telah tercatat, juga tanda tangan yang pucat
bagai kain pengikat mayat
maka tak ada yang bisa ingkar dari jalan melingkar ini
jurang membentang di hadapan, sedang di belakang sekumpulan anjing hutan
mengancam dengan gigi dan cakar berkilauan
   
kulihat tangan paman mengusap sepasang kembaran itu,
mereka saling menatap, seakan sama-sama sepakat
pada kedipan pertama tak ada yang boleh meratap
sebab setelah ini ketetapan akan lengkap; sebuah keluarga
harus keluar dari surga, menuju dunia di luar sana

(2013)


Parang Paman

bagian ini dimulai dari surat orang pandai
surat yang sarat oleh andai dan umpama
lalu paman, dengan lengan yang terbiasa
memikul cangkul, menggaru tanah baru,
datang bagai banteng di depan benteng

paman meminta tanah dengan parang
paman menawarkan perang sebagai penukar
sudah lama aku menderita, katanya
dan takkan kubiarkan siar dusta ini mengambil
seinci pun dari apa yang aku punya

waktu itu sore seperti sore kapan saja
kampung hampir rampung dari kerja
dan orang bersiap menatap gelap
seorang keliang tiba
berusaha menimbang muasal tanah
tepat saat paman mengacungkan parang
dan bagian ini berakhir dalam rumah

saat kami mendengar hantu-hantu ladang
bersiul di kejauhan

(2013)                                                                                        


Rencana Membunuh Paman

kadang kami membenci paman. kami percaya paman sejenis jahanam
dan tempat yang pantas untuknya adalah dalam nampan panas
paman gemar mengasah parang dan samar di matanya kilatan mata parang
bagai taring ular yang berbaring di kerimbunan belukar

kami ingin paman dipatuk ular saat sedang duduk di ladang
tapi sekarang jarang ada ular melingkar, ular takut pada bubuk putih
yang diserpih menjelang tumbuhnya biji-biji kacang
jadi kami tak bisa membayangkan apa yang kami bayangkan bakal terjadi

lalu kami berembuk bagaimana jika bubuk putih itu kami seduh
membiarkannya larut sebelum melepuh di perut paman
mulutnya  berbusa, ototnya melorot dengan tulang-tulang rontok

kami bersorak, riang bagai katak di musim penghujan
merasa telah mengusir bagian paling menyedihkan dari sebuah kisah
tapi itu terjadi hanya dalam bayangan kami. sampai kelak paman mati
diam-diam kami memendam sesal, kenapa bukan kami yang memberinya ajal

(2013)


---------
Kiki Sulistyo, bekerja di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Buku puisinya: Hikayat Lintah (2014).


Lampung Post, Minggu, 28 September 2014

Sunday, September 21, 2014

Sajak-sajak Edi Purwanto

Menafsir Mimpi

entah kapan semua ini akan berakhir
selalu saja engkau hadir
membawa bunga yang kau petik semalam
kau persembahkan kepadaku

lalu kau pinta aku menafsir bunga itu

aku tak habis pikir
mengapa bunga yang menjadi teman tidurmu
kau curigai begitu rupa
serupa musuh dalam selimutmu

2014


Perempuan Pemetik Gitar

perempuan pemetik gitar
jemarinya yang renta terus berjalan
di atas dawai-dawai
melompat kiri-kanan

dari mulutnya yang hitam
lahirkan seuntai tembang kenangan
kampung halaman

dadanya bergetar
seolah hendak berkabar
tentang kampung halaman
yang kini terkapar

2014



Sepapa Kanan

air mata itu tak pernah lelah
hujam hitam bebatuan
dalam selimut hijau Bukit Barisan

air mata penuh gairah
mengundang kekasih untuk tetirah
sekadar meninabobokan amarah
yang mungkin telah berpinak dalam darah

2014




Way Kambas

lantaran orang-orang begitu gairah
membunuhmu
maka kami bangun rumah ini

meski tak seluas rumah asalmu
kiranya cukuplah sekadar
menjadi tempat teruskan sisa usiamu
bila perlu
berpinaklah engkau di sini
agar cerita tentang kepandaianmu bermain bola itu
tak lenyap dari bumi ini
dan kelak akan kuajak anak cucuku
sambangimu di sini

2014



Istana Penyu

mestinya di sini
di pantai sunyi beralas pasir renik
adalah istana paling nyaman
tempatmu berpinak

tapi siapa dapat menolak takdir
lantaran orang-orang
berlomba merusak istana itu
dan menjarah butir-butir
penerus silsilah
juga tangan-tangan setan
yang memutilasi tubuhmu
dijadikan hidangan kelas tinggi

2014



Lelaki Pembiola

Tubuh kurus itu ditikam matahari. Berdiri di gerbang sebuah mal
kota ini. Tangannya yang mulai rapuh dengan setia gesekkan stik
pada benda antik itu. Hingga lahir himne: mereka yang telah rela
mati untuk negeri ini.

Sementara orang lalu lalang. Matahari masih terus menikam dengan
angkuhnya. Tiada lelah ia berdiri. Hingga lahir kembali instrumentalia
kesenduan. Tentang seorang anak yang menitipkan rindu buat ayahnya.



----------------
Edi Purwanto, lahir di Sindangsari, Natar, Lampung Selatan, 7 Juli 1971. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Lampung. Saat ini mengabdi di SMAN 2 Negerikaton, Pesawaran. Beberapa puisinya dimuat dalam antologi bersama Pukau Kampung Semaka (2010) dan Hilang Silsilah (2013).       


Lampung Post, Minggu, 21 September 2014

Sunday, September 14, 2014

Sajak-sajak Ari Pahala Hutabarat

Dalam Mimpi

Dalam mimpi, apa pun bisa terjadi
Nuh tidak karam di atas bukit
dan Ismail berlari dari puncak Moria

karena itu jika tadi malam
aku tak sempat membasuh kakimu
dan membisikkan hasut musim
ke telingamu, yang pernah mendengar
Suara Pertama itu, maka maafkan aku

dalam mimpi, apa pun bisa terjadi
kita tak jadi diusir dari Taman itu
dan Bapa, serta seluruh bala tentara-Nya
tak jadi menghardik kita

kemudian kita jadi kekal
api berahi dalam sulbimu
menelusup ke segenap rumput—
peraduan bagi hasratmu dan fitnahku.

(2014)



Kotamu

Kotamu adalah bulan Agustus yang menggigil
diterpa hujan dan aku adalah asmara yang selalu gagal
membasuh mulutnya sendiri—bahkan dengan sebulir air

kotamu adalah bulan Agustus yang meringkuk
di pojok kamar dan aku adalah asmara yang selalu gagal
mendayung perahu di hijau laut hatimu

kotamu adalah bulan Agustus yang bersin-bersin
di bangku taman itu dan aku adalah asmara yang selalu gagal
mencatat akhir amis kalimatmu

kotamu adalah bulan Agustus yang tersesat
di rimba rinduku dan aku adalah asmara yang selalu gagal
membuat peta bagi firman yang yang yatim-piatu

kotamu adalah bulan Agustus yang fana
dan aku adalah asmara yang selalu gagal
mengucap cinta di sekujur tubuhnya

(2014)


Fitnah Kekasih

Katamu—namaku adalah lambat langkah jam
yang mengetuk-ngetuk gerbang kota
saat Sang Kekasih datang
dan mengalirkan air surga
dari ujung jari-jarinya

namun lambat langkah jam ini pula
yang membungkuk dan mencium lumpur
dari sisa sepatunya. Lambat langkah jam ini
yang membersihkan tempat tidurnya
dari kerumunan fitnah dan mata dan bibir
yang tak yakin bahwa sepasang ular derik
telah pula tiba di balai kota

katamu aliran air surga itu takkan mampu
menghilangkan dahagaku. Sebab fitnah
telah melapisinya
dengan semacam kulit licin
milik seorang nabi yang berkhianat

namun memang tak kuhirup air
dan harum surga itu. karena Sang Kekasih
telah membenamkan tubuhku
ke dalam tubuhnya
saat langkah jam termangu
di bibir purnama.

(2014)


Tangan Hasrat

Kuhasratkan tanganmu, yang adalah tangan hujan
yang sejak kecil kulihat memungut daun-daun alpukat
di halaman depan

kuhasratkan tanganmu, yang adalah tangan hujan
yang ketika remaja kulihat membakar daun-daun alpukat
di halaman belakang

kuhasratkan tanganmu, yang adalah tangan hujan
yang ketika dewasa kulihat memotong daun-daun alpukat
dari tangkai malam

kuhasratkan tanganmu, yang adalah tangan hujan
yang ketika tua kulihat mencari daun-daun alpukat
di dalam kenangan

(2014)



-------------
Ari Pahala Hutabarat, menulis puisi, esai, dan menyutradarai teater. Saat ini masih kuliah di Program Pascasarjana Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila, sambil jadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan jadi konsultan batu akik di Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung.


Lampung Post, Minggu, 14 September 2014

Sunday, September 7, 2014

Sajak-sajak Mohamad Baihaqi Alkawy

Ladang yang Hilang

pandang ladang tepi kandang halaman belakang rumah tetangga
hanya bayang tomat tergantung dengan ranting melengkung
pada tanah yang tesenyum subur.

hari ini sudah ribut, kendaraan lalu lalang menggetarkan kenangan
para pejalan subuh yang tak sabar ingin melihat tanaman
kadang kami saling sapa atau sekedar bertanya ingin ke mana

tapi ladang sudah megah, udara begitu kotor, orang-orang bertanya
tentang saudaranya yang tiba-tiba amnesia.
dengan suara yang berbeda, tak saling mengenal dan tak dikenal

ladang pergi tak jelas siapa yang memiliki
orang-orang lalu lalang ingin menuju masa depan;
yang entah kelam atau cemerlang

sementara aku masih tergetar oleh ingatan
perihal batang padi yang merunduk sunyi

2014


Lembap Bacaan

aku buka buku lembap
lembar-lembarnya menyimpan aksara hujan
sementara paragraf awal melayang bimbang

kalimatnya tercium seperti aroma udara
pada desa yang telah aku lupakan namanya;
sebuah pemukiman yang dipenuhi pecah gerabah
di tanah lapang-selapang dada yang sabar

ingatan yang tumbuh seperti kuku
memanjang dan semakin tajam
setelah sebuah bacaan melabuhkan tubuh;
sedingin lembar buku berkutu, semanis kuku berpacar ungu.

2014


Peristiwa Pagi


sebuah mimpi teringat di penghujung mandi
tentang seorang tukang kayu yang ingin menyelesaikan
sebuah meja makan di siang hari yang lapar

ia menyalak kencang, menggigil ke arah kekalahan
sementara anak-anaknya hanya bekerja membersihkan jendela kamar
mereka hafal dari mana angin datang dan ke mana dingin pulang
apakah ke kampung asal atau ke rumah pelarian

mimpi itu ramah semisal tuan rumah
mempersilakan tamunya duduk di tempat terbuka
seperti halaman rumah sebuah desa

ada tetangga lewat dengan segan
mengucapkan sebait kalimat gemetar
bersama gelagat tubuh yang malu-malu berlalu

seperti sisa mimpi yang teringat di penghujung mandi
dan kebimbangan pada handuk bergambar penginang

2014


Puisi di Atas Meja Kerja


semut, tikus, kecoa, cicak, nyamuk, lalat
dalam kamar yang sesak oleh bait-bait
kemuraman seorang di atas meja kerja
di sana, setiap benda adalah penyesalan
dan ingatan yang mudah terlupakan

tikuslah yang mengisyaratkan bahwa waktu telah malam
sementara nyamuk berkeliaran tenang
cicak semisal air terjun menyegarkan pandangan
saat dingin huruf dalam buku membekukan tubuhku

kecoa meloncat setelah melihat gelap menyusup lembut
pandangannya mengarah ke sebuah lemari
isinya berjejal kalimat yang menjelaskan puisi

sementara lalat mengabarkan sejauh waktu
tubuh ini belum dibasahi air
ia tak tahu puisi telah mengalirkan air matanya ke lekuk tubuh
seorang pria dengan dada yang berdansa di atas meja kerja

2014


--------------------------
Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 9 Mei 1991. Masih studi di Fakultas Tarbiah IAIN Mataram. Bergiat di Komunitas Nafas dan berproses di Komunitas Akarpohon, Mataram. Bukunya berjudul Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014).


Lampung Post, Minggu, 7 September 2014
                                                                     

Sunday, August 31, 2014

Sajak-sajak Riki Utomi

Siapa yang Mengambil Suara itu

adakah kau tahu, suara-suara kita hilang.
lenyap dan tak berbekas. angin mungkin
telah menggodanya untuk membawanya

entah ke mana. kau mencoba mencari ke
segala penjuru namun tak muncul harap,
sebab waktu tak lagi memihak.

siapa yang mengambil suara itu?
suara-suara bekas tabunganku. dari periode

masa lalu hingga tersingkap berat zaman
yang kacau ini. dari harapan terkurung
dulu hingga mencoba arus di kanan-kiri.

selatpanjang, juni 2014



Urutan yang Bisu
 

kita hanya bisa mengeja satu persatu tentang:
harap, keadaan, dan mungkin juga ingatan.
sebab katamu, tak ada yang dapat ditunggu
amuk itu akan lenyap kalau tak kita kejar.

tiba-tiba kau menudingku. mengatakan
satu persatu, apakah keadilan, tuntutan, dan
hak, namun kau jawab tak tahu, sebab waktu
tak lagi memihakmu.

dalam urutan yang ke sekian kita tak tahu lagi
entah kemana pergi. pesan-pesan hanya silih
berganti. menikam, menghunus, dan sulit di
kendali juga sulit dimengerti.

selatpanjang, juni 2014



Kita Hanya Berharap

kita hanya berharap tentang hati yang jujur
mirip kata yang tak mau menipu dari hakikat
maknanya. setelah itu kita bawa kepada cinta
untuk mengobatinya.

kita hanya berharap, tentang tangan yang
terjulur; pada siapa saja. mirip dedaunan
yang menaungi kita dari terik panas matahari.
setelah itu kita bawa menjadi hangat dalam
arti keindahan.

kita hanya berharap, tentang kaki yang tak
akan pergi ke jalan murka. mirip rambu-rambu
sebagai tanda pada benak kita. yang melewat
akan mengingat pada kematian sebaliknya
juga pintasan dari nyawa yang tak sempat
kau semai menjadi kata-kata.

selatpanjang, juni 2014



Separuh Ungkap

sebagian saja aku hanya bisa mengungkap
dari jerit hatimu padamu. semua luka membandang
dalam pikir yang tak lagi hendak mengukir.

kita barangkali duri yang rapuh di tanah sendiri.
hanya mampu berucap dan tak dapat menggaung.
dan kita mungkin sepi yang terkurung bagai jeruji.

seperuh ungkap hanya itu yang terucap.
sekian detik lewat senyap. dan aku masih
menantimu.

selatpanjang, juni 2014


Yang Datang

yang datang adalah angka, meneror tubuh kita.
memakan sisa usia.

yang datang adalah jarak, menepikan mata
dari sudut lihat paling fana.

yang datang adalah ucap, mengatur pasti
dari harap yang kian gigil didapat.

yang datang mungkin langkahmu sendiri,
digelap legam malam, disunyi telanjang.
dikurung pikir yang goyang bahwa kau mengeja
tentang hal rumpang yang belum ada.

yang datang mungkin sorotan matamu itu,
tajam menikam mata hatiku. menjelma makna
dalam yang belum sempat kita eja, namun kau
berharap akan ada waktu untuk mencerna.

selatpanjang, juni 2014


--------
Riki Utomi, penggiat dan penikmat sastra. Buku cerpen tunggalnya Mata Empat (2013). Berproses sebagai guru di SMA Negeri 3 Tebingtinggi, Selatpanjang, Riau.


Lampung Post, Minggu, 31 Agustus 2014

Sunday, August 24, 2014

Sajak-sajak Abd. Rahman M.

Atas Nama Tuhan

Aku bertanya pada panasnya malam
di mana letak kaki berpijak
tanya tak harus berjawabkan lega
tuhan jawab segala tanya

2014


Menujumu

Malam mengguratkan titik tumpu
menuntun pencapaian menuju Ilahi
pejam mata
lepas dan urai air mata
hingga tenang sudah

2014


Menarik Pasir

Pikirlah maksud
bintang di langit merapat
menampar pipimu
merasuk
menyelisik
maksud hati
pun
terbengkalai

2014


Renung

Memberi hati
bukan berarti terbagi
pikirlah
hatihati

2014



Tanya
Air tak lagi berair
dingin tak lagi mendingin
cair tak lagi mencair
seni tak lagi berseni

2014


Kosong

Angin berhembus menerjang warasku
kekosongan menguliti aluan bait demi bait
sepotong syair di penghujung malam
selimut tebal hati rapuh
kasih kemari lelah menanti sendiri

2014



Poli Tik

Aku masih diam malas
mereka memanggil aku lemas
teriakan lantang kusambut pulas

2014


Nestapa

Di simpang itu ketika lampu merah menyala
langkah laju kaki kecil berlari menjemput
destinasi demi sesuap nasi
mengharap receh dari tangantangan
yang masih punya hati

2014


----------
Abd. Rahman M., lahir di Prapat Janji, Sumatera Utara, 29 Juni 1989. Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan.


Lampung Post, Minggu, 24 September 2014

Sunday, August 10, 2014

Sajak-sajak Muhammad Harya Ramdhoni

Sajak Tak Bernama
: ADS

I
kutulis sajak ini, kala rakyat tengah
dilanda demam merajuk.
merayu calon pemimpin yang kemaruk.
entah berisi pujian atau mungkin berbaris cacian.
di mana keduanya sungguh sulit dibedakan.
kugubah sajak ini, saat seorang jenderal tentara darat
mengemis kekuasaan dengan segala cara.
airmata dan ingusnya membasahi seluruh katilnya.
tak perlu kuceritakan padamu
betapa anyir bau seprai ranjangnya.

II
engkau telah meninggalkanku entah untuk berapa lama.
mungkin sebulan, bisa jadi setahun.
atau justru selamanya, seraya wariskan
duka yang tak terkatakan pedihnya.
kita pernah punya mimpi yang sama.
di kala kita berhasrat menggapai angkasa.
meniti pelangi berjuta warna.
menggalang kehendak ‘tuk bercinta.
namun ini bukan sekedar riwayat
pergumulan di dalam bilik, sayang.
semua ini melebihi berbaris sajak dan prosa yang
kugubah demi mendaulatmu sebagai perempuan utama.
sepenggal kisah tabu dalam tiga puluh tahun
kembaraku sebagai seorang pria.

III
ketika kaupergi ada liang kosong dan ngungun
dalam selubung suci perjanjian kita.
sejengkal ruang yang dulu
kau isi dengan ikrar tak bersyarat.
sebuah narasi yang kaumusnahkan
ke dalam bara keparat.
tak bersisa selarik bait,
bahkan sebuah huruf pun tiada
kini, bagimu aku bukan seorang
lelaki yang patut dikenang.
hanya setitik debu dalam kisah
hidupmu yang gemerlap dan panjang.
engkau telah lupakan setiap
hembusan napas kita.
yang menggema dari tumasik
hingga hentian kajang.
lalu, kau enyahkan setiap harap dan cita.
seolah itu penanda dirimu
seorang perempuan bermarwah.
seakan kau dapat lari dariku sambil bertepuk tangan.
dan bertamsil ke seluruh penjuru bumi,
bahwa diriku tak lebih seorang lelaki bodoh
yang hanya pandai bertepuk sebelah tangan.
namun kau tak pernah insaf, sayang.
telah kupindai setiap lekuk tubuhmu
dengan teramat cermat.
dan kuhitung letak setiap tahi lalatmu
hingga di tempat paling keramat.
lalu kurekam setiap lolong magismu
pada malammalam dingin dan kudus.
membuat para iblis mengangguk
mahfum sambil tertawa bengis.
kini, dengar baik-baik pesanku:
ke mana pun kau berlari,
ke setiap arah mata angin yang kautuju,
dirimu tampak telanjang dan
tak pernah matang di hadapanku.

Tanjungkarang, 20 Juli 2014


Nyekar
: Mbah Kung R. Soetanto & Mbah Putri Dra. Koemini Ismari

akhirnya waktu membawa diri
menuju tempat bermula.
sebuah kota di tepi bengawan dan
kisah dua makam tak berukir dari
batu pualam berwarna jingga.
di sana terbaring kakenda dan nenekda
yang menimang diri dalam hening,
dalam tulus tak terbayar.
“aku menjengukmu mbah kakung, mbah putri”,
kata lelaki muda dengan suasana
hati gembira namun takzim.
disimpan baikbaik senyumnya,
mengingat diri dalam peluk cium mereka berdua.
disimpan baikbaik tangisnya, mengingat
kasih sayang dan kemanjaan kala balita.
namun air matanya akhirnya titik.
saat tersadar jasad keduanya telah
lama tergelar di dalam tanah.
tiga puluh tahun bukan sebentar.
sementara lelaki muda hanya
punya segenggam doa.
di senja hari seiring ia bergumam lirih,
“selamat petang, solo. aku kekal mencintamu.”

Solo & Bangi, Malaysia, 4 & 17 Januari 2014


----------
Muhammad Harya Ramdhoni, lahir di Solo, 15 Juli 1981. Dosen Pascasarjana MIP FISIP Universitas Lampung ini menyelesaikan MA dan Ph.D. ilmu politiknya di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bukunya: Perempuan Penunggang Harimau (novel, 2011) dan Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (kumpulan cerpen, 2012).


Lampung Post, Minggu, 10 Agustus 2014

Sunday, August 3, 2014

Sajak-sajak Riza Multazam Luthfy

Macam Kaktus, tapi Bukan
Gerimis gundul tiba-tiba datang serupa iblis bermata garang. Ia dengan bengis menginjak-injak pohon rindu yang baru dua tahun kutanam. Di ladang perasaan. Di kebun mimpi yang hijau dan rindang.

Seperti juga kuda pasukan Sparta kala menyerbu Kampung Laconia, gerimis itu begitu beringasnya. Sampai-sampai tiada mampu ia bedakan mana kaki-kakinya yang mengancam. Mana pula tumbuhan yang hendak diluluhlantakkan. Sampai-sampai pohon kecilku tumbang. Akarnya berserakan, melebur dengan muka tanah yang bulat panjang. Daun yang semestinya berkorban demi lambung ulat, berceceran tanpa secuil pun mengais manfaat.

Padahal, seperti pesan Eyang, pohon satu ini tampak kurang tertarik dengan segala jenis cairan. Ia macam kaktus, tapi bukan. Ia sangat benci jika suatu hari seekor makhluk sengaja melumeri punggungnya. Atau kepalanya. Atau lehernya. Atau anggota tubuh yang jamak disebut daun dan dahan, tapi ia lebih suka menyebut kaki dan tangan.

Maka, gerimis bedebah! Ketahuilah, bahwa aku memberinya minum bukan dengan cara sembarang. Berbulan-bulan sebelumnya aku mengambil segayung air dari Sungai Nil untuk kemudian kutitipkan pada tanaman-tanaman rambat di sekitarnya. Merekalah yang kumintai bantuan untuk memasukkan setetes demi setetes ke mulutnya, ketika sudah benar-benar mendengkur.

Pohon kesayanganku memang pemalu. Makanya, jangan heran jikalau ia memilih bermukim di lahan yang subur. Dengan begitu, ia bisa terus mengalirkan napas tanpa terlihat sibuk mencari cairan. Ia pura-pura menyapa tetangga, berjabat tangan, lantas mengusapkan jemarinya yang basah—karena bersentuhan dengan tanaman lain—ke sekujur badan. Ia belum mengerti bahwa aku, pemiliknya, telah turut serta menyelundupkan larutan yang sangat diperlukan dalam hidupnya. 

Ah, sudahlah. Kau, gerimis! Kau boleh tertawa sesuka perutmu, sebab menerka bahwa sebentar lagi aku terlunta-lunta. Menderita atas gugurnya pohon kiriman perempuan yang amat kupuja. Ya, kupuja lantaran ia tak menaruh rasa sama sekali, tapi aku sungguh mencintainya.

Terima kasih, pohon rindu. Pohon yang memutuskan mati ketimbang memanggul malu. Pohon yang pernah mengantar hatiku mekar, meski aroma senyumku makin tawar.

Yogyakarta, 2012


 
Kasihan!

Setiap aku mengangon kata, setiap itu pula tetanggaku ikut bergabung. Namanya Dirman. Ia dipanggil Kasihan.

Benar. Orang-orang menyebutnya demikian, dikarenakan memang ia pantas dikasihani. Bayangkan! Dirman terlahir dari rongga kemaluan babi betina yang ditemukan Pak Joko waktu berburu di hutan. Mata satu. Telinga satu. Bokong tiga. Anunya sepertiga.

Oh, pasti kalian benar-benar kasihan kalau mengetahui sejak balita Dirman tak bisa mengucap apa-apa. Ia cuma menitihkan air mata jika menghendaki sesuatu. Air mata yang tersendat-sendat, karena diperas dari satu mata; lubang yang begitu mungil ukurannya. Sayang sekali, Pak Joko sulit memantau mana Dirman yang berduka, mana Dirman yang bersuka, karena antara kesedihan dan kegembiraan telanjur tiada sekat. Berkelindan. Bertukar tampang. Mengembar siam. Siam yang mustahil dibedakan.

Sejak umur tujuh tahun aku rajin mengajak Dirman mengangon kata. Dengan bersamanya, aku sering mengumpulkan air matanya yang berbau keemasan. Air mata yang mengingatkanku pada kakek yang menggerung-gerung sesaat sebelum menjemput maut. Pada pipi ibu yang basah kuyup, menyesali kenapa dulu mau dikawini ayah, yang penyair. Penyair yang gemar mengobral tanduk puisi di halaman koran. Yang bersedia dibayar recehan, namun akhirnya harus mendengkur di bui paling kejam.

Meskipun sesenggukan, aku mengerti bahwa menangisnya Dirman menunjukkan kegembiraan. Hal itu tampak ketika suatu hari ia mengaku bermimpi bertemu kuda telanjang. Ia tidak menangis lantaran kelopak matanya terpejam. Anehnya, dari kemaluannya bercucuran air mata keruh, kental, gurih, menggiurkan. Dan, sejak balig itulah Dirman kerap merajukku untuk bersama-sama mengangon kata, walau ketika aku menyanggupi, ia malah menangis. Tangis yang pura-pura. Tangis yang sebetulnya adalah tawa.

Tapi, sejak ia berusia dua puluh tahunan, aku mulai resah dan menjauh dari Dirman. Pasalnya, semua puisi yang kupelihara selama ini ternyata tertular derita Dirman: bermata satu, bertelinga satu, berbokong tiga, beranu sepertiga. “Ah, kasihan!”

Yogyakarta, 2012

Keterangan: puisi ini terinspirasi dari puisi Mardi Luhung berjudul Sungai Kembar.


-----------
Riza Multazam Luthfy, Pendiri dan kontributor komunitas Sastra Minggu. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media dan antologi.

 

Lampung Post, Minggu, 3 Agustus 2014

Sunday, July 27, 2014

Sajak-sajak Alex R. Nainggolan

Telapak Waktu

Kau adalah telapak waktu. Yang menjejak di tubuhku, sepanjang hari yang penuh duri. Kerumun mimpi yang tak usai kupunguti satu per satu. Namun kau terus melangkah, berharap tak kesasar bersama sejarah yang hambar. Di jalan yang gelap tanpa kertas peta, kau tarik lenganku dan memancung segala purnama yang hinggap di langit. Tapi orang-orang lebih senang merayakan luka dari pori-pori kulit mereka. Memasuki serapah yang dipenuhi ludah, atau segala tabiat jahat sebelum malam berangkat. Dan engkau masih terus menyobek hari yang tertanda dalam almanak. Seperti segala dosa dan sedih telah tamat. Di rimbun kota, aku dihinggapi cemas yang runcing di ujung rambut. Suara anjing yang terus melolong, dan kota yang telah menjelma jadi raksasa hitam. Namun tahun memang menua, jejaknya masih kau catat, di sebuah buku yang telah terjatuh di lorong gelap. Suara teriakan itu bergumul, memanggul semua jasad yang kehilangan kenangan.
Engkau adalah telapak waktu. Jejak tanpa muslihat, mendekapku dalam muram.

Edelweis, 2014


Gumam Puisi

Sejauh mana engkau pergi
Kota telah buta oleh cahaya
Kata menjadi rekah fajri
Yang melulu dihimpun sunyi
*
Mungkin tangis
Yang tak sempat direkam
Oleh gumpalan luka
Menggumul dari sisa cahaya
*
Aku dan kamu membaca
Sepanjang aksara
Yang tak juga
Jadi tua
*
Sepanjang puisi
Bara kata yang hampir mati
Kenangan terasa sunyi
Memanggil suara lain
Yang mungkin abadi
*
Langkah kaki
Terseret pergi
Wangi sunyi
Terbakar lagi

2014



Hujan Juli yang Dingin

Sepanjang hari, Juli tertempa hujan. Dingin abadi di jalanan, sementara orang-orang melangkah dalam puasa yang teduh, atau menanti siapa yang kelak jadi presiden. Hujan merantau di seluruh ruangan, merebut segala bayangan angin. Kaca-kaca berembun, kenangan membasah, airmata terus berjatuhan. Tubuh-tubuh berdesakan, mencari payung atau sekadar mantel hangat. Aku merapat ke masalalu, yang selalu saja buntu. Melangkah di antara genangan luka yang lama membatu. Juli terus membasah, di tiang-tiang listrik. Cemeti sunyi merebak, menapak tanpa jejak diusap air. Mengalir dari setiap pangkal kesedihan. Hujan belum juga berhenti. Dan kerumun orang masih menepi, bercanda dengan degup waktu yang makin nampak di dada.

Juli 2014



Kita
      - asrina        
     
Ingin kucabuti segala sedihmu. Sembilan tahun dan kita berangkat menjadi tua. Tapi selalu ciumanmu kutunggu, di batas pagi atau malam. Agar segala sesak di dadaku terdiam. Bukankah selalu ada pintu rumah yang terbuka; dengan tawa kanak-kanak setiap kali kita tiba? Maka akan kuredakan sesal yang kausimpan dari jalanan. Pernikahan ini akan melingkar di seluruh tubuh, sebab engkau bukan lagi dara yang kerap menunggu mekar mawar.
Ini musim hujan, yang selalu kauarsir dengan cemas. Bersama dinginnya yang muram, menghitung kelam demi kelam. Tetapi, aku akan selalu tiba untukmu. Bertahun-tahun meski berkerumun dendam dan demam. Merindukan selalu, pelukanmu yang rapat itu.

Juli 2014


Bermain dengan Hujan

Bukankah itu adalah hujan yang kautemui waktu kanak dulu? Dengan tubuh kecilmu berlari sepanjang jalan, hingga tubuhmu kuyup, kulitmu mengerut. Tanpa cemas. Dan itulah kenangan yang panjang, meski engkau meriang, menahan gemetar tubuh yang dibalut dingin. Gigimu gemeretuk, mengetuk mimpi yang binar. Nampak pijar matamu selalu berdenyar, sepanjang hari.
Kini engkau jalani lagi ingatan itu, namun tubh yang dewasa tak sanggup menampung segala riang hujan. Tubuhmu ngilu dan dihajar influenza berat. Kau coba mengingat; ternyata kilap hujan lebih kuat. Tak bisa kautampung hingga rampung di tempurung kepalamu. Hanya ingatan pada selimut hangat atau jalanan yang terus membasah dalam kecambah hujan.

Kebon Jeruk, 2014


-----------
Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Unila. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di berbagai media dan antologi bersama. Bukunya: Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, 2012), dan Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, 2012).


Lampung Post, Minggu, 27 Juli 2014


Sunday, July 20, 2014

Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS

Perjamuan Siang

siang yang garing ketika aku pamit, entah untuk kembali atau
benarbenar kulupakan seluruh percakapan. juga segelas jus alpokat,
jamuan siang dan kenangan yang berserak di meja itu. "tapi kuingin
suatu waktu kita ulangi pertemuan ini, lebih intim lagi," kata seekor
cicak yang tibatiba jatuh di meja makan ini

hari amat melepuh. kutinggalkan sisa bibirku di mangkuk jamuan,
setelah kau cicicipi sedikit demi sedikit seperti kaunikmati soto betawi;
"biarkan aku simpan jika masih sisa untuk kuhampar lagi pada
jamuan siang berikutnya," kataku, seperti yakin kelak ada
perhelatan lagi. sebuah pesta besar merayakan kemenangan

siapa yang datang ketika perjamuan hampir selesai?

30 Juni 2014



Jam Melompat-lompat di Dalam Perutku

jam yang melompat-lompat di dalam perutku semakin lambat
seperti perempuan penari gemulai tangannya mengelus sabarku

perjalanan akan selalu lama, butuh waktu tak sekejap. apalagi
untuk pulang disambut riang. sungai susu, taman buah dan bunga,
bidadari cantik yang hanya hidup di kahyangan, adalah ratu
di sini

jika bidadari cantik menemani, sungai susu akan membuatku
selalu muda, atau taman bunga dan taman buah (anggur) agar
aku mabuk hanya padamu, bahkan jamuan selezat apa pun
dihidangkan kekasihku, akan kukatakan "aku sudah tak lagi lapar."

karena puasaku kukadokan hanya padamu. cukuplah kau menerima,
aku kehilangan lapar dahaga

aku selalu berada di senja

1 Juli 2014



Kau Janjikan Pertemuan Ini

aku terjaga, tapi kaukah yang membangunkan? mengusir pergi
selimut, melarungkan bantal dan tempat tidurku, serta mendamparkan
di bukit jauh yang tandus. seperti mengjngatkan aku pada perahu nuh
yang terdampar juga di bukit ini seepas air raya. menghayutkan
keluarga dan umatnya karena khianat atas surat-surat ilahi

tak ada lagi perahu nuh di bukit sunyi dan tandus ini. kau bangunkan
aku setelah banjie besar. dan kau mengjakku bercakap, kau kisahkan
orang-orang abai dan banal. malam sepi -- di sini hanya berdua: aku
menjadi murid di hadapanmu yang guru. kuikuti surat-suratmu, satu
persatu kueja hurupnya. bagaimana bisa aku mengejanya?

"bacalah!" perintahmu. "jika kau mampu mengenal hurup-hurup itu,
kau akan faham tanda di dalamnya. seperti kau mengenal lekuk
tubuh semesta ini."

tapi aku tak membaca kisah perahu yang terdampar setelah air raya
surut dan orang-orang menuruni lambung kayu itu, kecuali langit
masih mendung dan aku mengendus bau kematian
di lantai ini. aku tersedu, teringat masa lalu yang pekat dan berlumpur

          -- aku melangkah dalam gelap. aku berenang di kolam lumpur --

"Tuhan, kaukah yang menjanjikan pertemuan sepertiga malam ini?" aku tersedu

1 Juli 2014; 01.40




Aku Merantau

aku merantau, dari rumah ke masjid
dari kenyang ke lapar-dahaga
aku kunci mulutku agar tak terucap
caci dan fitnah dari lidahku

aku tulangkan lidahku
agar tahu arti ucapan

ramadhan kau ajarkan...

2014


----------
Isbedy Stiawan Z.S., menulis di berbagai media massa. Sastrawan kelahiran Tanjungkarang, Lampung ini, telah menerbitkan sejumlah buku cerpen dan puisi. Terbaru kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung (2013) dan kumpulan puisi Menuju Kota Lama (2014).


Lampung Post, Minggu, 20 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

Sajak-sajak Soeyanto Soe

Doa yang Kupanjatkan Diam-Diam

Dan biarlah mimpi
berbulir sepi,
Tatkala butiran rindu
menetes dari retak dinding masa lalu
Ia selalu menerpa wajah dan jiwaku

Sedamai percik hujan
merenggut rona silam
Lalu melesat memanah masa depan
dengan membungkus rindu-dendam

Maka, meski rindu
dan sepi kadang bersatu
Mereka tak harus berkelindan waktu
Agar kelak kau tahu Bahwa pada hari ini
Aku bersimpuh memanjatkan doa terbaik yang aku punya!

Lampung, 2014


Perjalanan 1

Ketika aku menengadah pulang
Kulihat wajahmu berganti warna
berpendar tak berjiwa

Ribuan tanda tanya hinggap di rambutmu
Kau sibak dengan lengan gemetar
pucat dan dingin
Seketika ingin kuraih bahumu
Merangkul tubuhmu agar kita beriring bersisian

Namun hentakan kakimu begitu kokoh
Menghujam tanah memaku bumi
Menyatukan aliran amarah
Menuju kawah hatimu yang memerah

Bara itu menemukan pijakannya!
Aku harus mundur beberapa tepi
Agar tak lebur dalam magma yang penuh api
Dan aku harus memanggil hujan
Lewat cintaku yang memintal ribuan awan

Lampung, 2014



Perjalanan 2

Janganlah engkau menjadi jahat
Ketika seluruh perapian mengelilingi tubuhmu
Kibaskanlah mereka
dengan kerudung hatimu yang paling wangi dan bersih

Ingatlah bahwa kesucian itu selalu kutanamkan padamu
Selalu ada dalam detak jantungmu
Meski engkau kerap lupa
karena serbuk kopi pahit yang lebih sering kau baca

Sementara parfum dan cinta
biasanya kau letakkan di bibir meja
Sehingga tiap kali kau gundah
Yang terlempar adalah cangkir, sendok, dan gerabah

Janganlah engkau menjadi jahat
Cinta itu sesungguhnya tak melaknat
Ketika seluruh perapian mengelilingi tubuhmu
Bersandarlah
Dekap kerudungmu setelah kau kibaskan
dan tuliskan rasamu lewat tinta yang tersenyum...


Perjalanan 3

Di pagi dingin penuh kabut
Kehangatan di puncak bukit hijau ini
hanyalah berasal dari sisa bara
api unggun yang tak lagi mengerucut

Pagi
Hampa
Sepi

Lamat-lamat kuteringat ocehan garangmu kemarin:
"Jangan samakan aku dengan mantanmu!
Aku bukan dia; dia bukan aku!"
Tanganmu menepis pelukanku
Mengusirku pergi dan tak ingin kukembali

Cinta kita ingin kau injak-injak lebur
Hanya karena aku salah ucap kata-kata
Bukan salah hati salah jiwa

Tidakkah kau tahu kata-kata kadang berlapis-lapis makna?
Tidakkah kau tahu jiwaku bersujud tiap kali kuucap namamu?
Tidakkah kau tahu hatiku bersimpuh utuh untukmu

Kutak tahu sekokoh apa cintamu
Sedangkan cintaku padamu sangatlah jelas:
Dia seperti rumpun bambu
Yang selalu tumbuh dan merimbun
Yang takkan hilang hanya dengan sekali tebas
Dengan pedang yang maha tajam sekalipun!

Duhai kekasih,
Kutinggalkan dulu engkau yang sedang geram meradang
Agar kelak saat kita jumpa nanti
Rindumu tak lagi terlilit amarah semerah api

Aku pun perlu waktu untuk menyendiri
Di padang bukit yang begitu dingin saat pagi

Gunung Padang, 2014


-----------
Soeyanto Soe, lahir di Tanjungkarang, Lampung, tahun 1970. Ia mengikuti pendidikan S-1, S-2, dan S-3 semuanya dalam bidang ilmu komunikasi, mulai dari Komunikasi Pemasaran (di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Manajemen Komunikasi (di Universitas Indonesia, Jakarta), hingga Komunikasi Politik (di The University of Melbourne, Australia). Saat ini, ia koordinator Tim Citra Indonesia, sebuah konsultan komunikasi pemasaran.


Lampung Post, Minggu, 13 Juli 2014

Sunday, July 6, 2014

Sajak-sajak Hazwan Iskandar Jaya

Puncak Malam

Kegelapan tak mudah diterka maunya
Ketika keringat gugur di padang renta
Mengharap pendar cahaya membasuh luka
Bulan dan bintang yang gemetaran di cakrawala
: kita menasbihkan kata di kening senja

Masih ingat ketika cakar, geram, dan aum mencucup bibir kita
Dan dengkur kereta menghantar sampai stasiun purba
Kita hanya terdiam, memikirkan sunyi yang tiba-tiba
Menyergap suasana
: kehampaan di akhir kisah yang tercengang di jendela

Aku, kau dan nasib berebut tempat di atas kertas merona
Ingin menuliskan prasasti tua
Dan mengabarkannya pada kegelapan
Yang tak mudah diterka maunya

Yogyakarta, 2014


Puncak Rahasia


Dan apabila telah datang kabar dari rimba sunyi
Orang-orang pun mendurjanai janji
Dalam semangkuk hasrat dan segelas puji
: Tapi dia telah dikhianati lidahnya sendiri!

Begitulah pelajaran pertama dimulai
Dan mungkin kisah-kisah lain menyertai
Menjadi budak dari saban perangai
Meniti buih dari bulir mimpi di padang pantai
: semua telah terkuak dan terkoyak! Ahai…

Yogyakarta, 2014



Puncak Entah Berantah

Negeri ini adalah entah berantah
Pemimpinnya pun entah berantah
Rakyatnya juga entah berantah
Pedagangnya entah berantah
Birokratnya entah berantah
Guru-gurunya entah berantah
Muridnya entah berantah
Orang tuanya entah berantah
Anak-anaknya entah berantah
Lakinya entah berantah
Perempuannya entah berantah
Suaminya entah berantah
Istri-istrinya entah berantah
Hakimnya entah berantah

Kita semua terjebak di negeri
: entah berantah!

Yogyakarta, 2014



Puncak Senyap

makam
apakah tempat kembali
sebelum senja
menimpali?

Nisan
Apakah pertanda prasasti
Setelah gurat takdir
Merengkuh diri?

Kembang
Apakah warna-warni
Usai sembahyang
Lalu mewangi?

Air
Apakah mengaliri musim
Ketika dahaga bermukim
Menumpas akhir?

Doa
Apakah mustajab
Dalam gema zikir
Meremah serpihan azab?

Yogyakarta, 2014




--------------------
Hazwan Iskandar Jaya, lahir di Palembang, 27 Agustus 1969. Beberapa karya tulisan berupa puisi, cerpen, esai, dan opini pernah dimuat di berbagai media dan antologi bersama.
 


Lampung Post, Minggu, 6 Juli 2014

Sunday, June 29, 2014

Sajak-sajak Sartika Sari

Maut

untuk bertemu, aku mesti menunggu begitu lama
ke semua jalan, yang banyak patung kenangan

ketika langit benar-benar melengkung di bibirmu,
atau mungkin bola mataku yang terkungkung bingung
pelepasan, kukira adalah perpisahan terteduh
sebelum akhirnya menikmati hembusan angin yang pelan-pelan membawa
sisa air matamu, dari pipiku

kekasih, rimbun rindu menancap di ulu hatiku
akarnya seperti bakau, mencengkram dan tak mudah ditebang
perjalanan yang singkat telah menjadi apa saja
ke manakah muara yang kita tuju?

kau cuma datang sebentar,
dan membawa pulang hati ratusan orang

Medan, 2014


Dua Puluh Enam

seharian tadi sepi mengurung diri dalam larik-larik puisi, catatan mimpi dan ciumbelueit yang pasi, sejak matahari datang dari tubuhmu, mendenyar kenangan dan rindu yang sungkan. kita belajar mengenali perjumpaan, belajar menempuh ingatan dan mencoba menembus kemungkinan.

2013


Jalan Taman Sari

kulalui lagi jalanan ini, setelah petang membawamu pulang ke pangkal jalan bersama tumpukan kenangan dan barangkali rindu
yang sampai saat ini belum bisa tenang

langit terasa begitu berat
angin berjungkalan
jalanan ini sunyi sekali
untuk perempuan yang datang dan pulang
meninggalkan rahasia pertemuan

maka aku memilih diam
menjinjing satu per satu kedalaman pertanyaan
sampai besok atau lusa
kita mungkin mengulang-ulang ingatan

2013



Di Braga

akhirnya kita titipkan perpisahan pada alun-alun kota,
dan braga yang tak punya pilihan selain menghitung hujan

aku percaya, jutaan kenyataan sudah dititipkan tuhan di dadamu
mata air yang segar atau padang tandus yang terjal
segalanya datang dan akan berpulang pada kesunyian
kita berdiang di penantian

sudah cukup, hari ini.
ratusan malam telah menyublim di kedua lensa dan bibirku,
rindu melumuri seluruhnya, sampai aku tak bisa berbuat apa-apa
mungkin lantaran sudah terlampau dalam,
mungkin lantaran kesenduan
mungkin lantaran keresahan
mungkin lantaran kau
yang diam-diam mengoyak keningku
mencari letak kerinduan

2013



Aubade

di antara dua hulu sungai, aku menghabiskan sisa remaja dengan mengenangmu.
perkenalan di kota kembang dan  romantisme perpisahan di braga festival.
sampai detik ini, aku masih betah menjadi penunggu kemungkinan
gelisah, rindu dan ketakutan bersemedi di jantungku, membangun dermaga-dermaga
sunyi, laut bagi doa dan harapan yang panjang. setidaknya tak ada yang diam-diam
meninggalkan, dan kembali lalu pergi lagi,
menanam dendam

Medan, 2013



Di Pinggir Pantai

seperti laut, aku ingin menggarami kesunyianmu dengan jutaan puisi yang tumbuh di punggung-punggung karang. gelombang dan angin malam menyusun jutaan biduk, untuk dikayuh para penyair yang kehilangan kata-kata. bumi ini dingin dan sunyi. seperti larik prosamu. karenanya, aku kerap kehilangan telunjuk dan bulu kuduk. cuma gigil dan elegi yang mengiringiku berjalan di tengah gerbong-gerbong tua, plaza, jalan raya dan koran-koran lokal yang dipadati gambar wali kota.

Medan, 2013


------------
Sartika Sari, 1 Juni 1992. Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. Sejumlah karyanya dimuat di berbagai media.


Lampung Post, Minggu, 29 Juni 2014

Sunday, June 22, 2014

Sajak-sajak Novy Noorhayati Syahfida

Menghitung Rindu, Membilang Namamu

rindu masih biru
menapaki dinding-dinding waktu
ada yang menyeru namamu
dalam gerimis yang paling syahdu

beri aku bunga yang paling mawar
pengganti rindu yang mendebar
sepi kini menjelma getar-getar
merasuki jiwa yang menggelepar
membaca cahaya, mengurai pendar

rindu masih biru
singgah mengetuk pintu
begitu restu…
begitulah selalu kusebut namamu

Kedoya, 16 Januari 2014


Di Makam

aku datang kembali, pa…
lepas rindu raga
membasuh tubuh rerumputan
mengurai manik kenangan
panjatkan al-fatihah, lafadzkan yasin
di makam inilah saat perjumpaan
ingatkan diri akan sebuah pertemuan

Bandung, 2 Februari 2014


Lelayang

jika rindu sudah enggan bertandang
ke mana cinta dibawa dendang
sedang luka telah meradang
tinggallah bimbang
bagai lelayang

mencoba pasrah
dalam ragu dan gelisah
satu asa yang tetap singgah
meski air mata tak sudah-sudah
doa adalah kesetiaan yang terindah

Tangerang, 16 Februari 2014



Nyanyian Hati

Aku ingin menetap di dadamu
yang kekar menasbihkan namaku
menggenapkan waktu menjadi beku
agar tak ada lagi ruang tunggu
yang mencatat semua manik ragu

Tubuhmu bagai lautan
tempat perahuku melabuhkan kerinduan
meski terombang-ambing riak kecemburuan
dihempas badai dan angin buritan

Duhai kekasih hati
layarkanlah mantra-mantra pecintaan ini
pada senja, dan pada ombak yang tak henti menanti

Aku ingin menetap di dadamu
yang penuh gelombang itu…

Sungguh!

Tangerang, 18 Februari 2014



Laut Mencatat Luka

laut mencatat luka-luka
menampung air mata
detik demi detik muara

ada yang diam-diam cemas
layu terhempas
ia yang melangkah, pergi dalam gegas

laut telah mencatat luka
pada satu paragraf cinta
pada ia yang ingin melupa

Kedoya, 26 Februari 2014


---------
Novy Noorhayati Syahfida, lahir di Jakarta pada 12 November. Buku puisinya: Atas Nama Cinta (2012) dan Kuukir Senja dari Balik Jendela (2013).


Lampung Post, Minggu, 22 Juni 2014

Sunday, June 15, 2014

Sajak-sajak F. Moses

Dari Teluk sampai Tanjung

di laut kita pernah memancing
tapi ikan telanjur mahir menyelinap
di antara terumbu karang
“di Teluk ini tanjung masih terlalu garang
bagi si gamang bersitegang tegap di tubuh karang,” bisikmu

kita pun bergegas menafsir waktu
meninggalkan Teluk ke Tanjungkarang
“terlalu ringkih bagi kaki malas beralas,” bisikmu lagi

kaki beralas selalu mampu di Tanjungkarang
kaki telanjang cukup sampai di Tanjung
“Tanjung apa?” katamu.
“Tanjunggarang,” kataku.

2013


Katedral Tanjungkarang II

selalu kurumuskan segala ingatan
atas namaMu
sekadar doa dari lenguh domba dasar jurang
di rumah putih Tanjungkarang

selalu saja kuingat dirimu
selalu saja kukenang sebuah kota
darimu
Tanjungkarang adalah iman bagi puitika

segesit gerak ikan di antara terumbu karang
selesat ingatan seluruh bagi Tanjungkarang
bagi puteraMu seorang
menguatkanku bak batu karang

hari ini masih kubilang
mengingat Tanjungkarang
;musnah segala pedih meski berlancip karang
                   
2013


Kunang-Kunang Kenangan Bakauheuni-Way Kanan

kunang-kunang kenangan melata
landai pandai meliuk di perbukitan tubuhmu   
menjawil sepanjang perjalanan
dari kata ke kata
dari kota ke kota
mengitari kenanganmu


kunang-kunang kenangan
jua menjelma seribu frasa
menziarahi lekuk teluk tubuhmu
untuk bersegera di sungai perbukitanmu

girang kutafsir kunang-kunang kenangan
dari lekuk perbukitanmu yang menganga
menampung segala resah
merampungkan segala desah
;dari kota ke kota       
   
di antara tiap lekuk perbukitanmu
adalah kunang-kunang kenangan
;bila malam tiba, kerlipmu menjelma
dari frasa ke frasa
kembali melahirkanmu sebagai kata-kata

2013



Lapangan di Kompleks Gubernuran Telukbetung

selalu kuingat janji kita di lapangan itu
seluas selapang perasaan yang tersusun rapi
kamu bilang begitu
aku bilang begini
;kita yang memang tak pernah sama. Kecuali dalam dusta.

dan kita pun kembali menyusun janji
untuk esok lebih baik
sekadar memberi kabar dan ciuman terakhir paling sempurna
lantas kita sempatkan makan bakso dan minum es teh manis
sebelum ucap mengubah segala pedas dan manis

kamu masih bilang begitu
aku masih bilang begini
kita masih saja tak sama.
Kecuali ingar nafsu

2013


----------
F. Moses, kelahiran Jakarta, 8 Februari 1979. Menulis puisi, cerpen, dan esai pada beberapa media. Tinggal dan bekerja di Jakarta.


Lampung Post, Minggu, 15 Juni 2014

Sunday, June 8, 2014

Sajak-sajak Oky Sanjaya

Mangga

Adam terus-terus saja
mengingatkan Hawa,
jangan memetik buah mangga itu.

Ini di surga.

Tetapi,
awalnya dipetik juga.
Kulit mangga muda itu,
dikupasnya.
Tampaklah utuh dagingnya.
Tercium semerbak getahnya.

Garam, cabai rawit
pada piring,
dicocolnya,
digigitnya,
ngilu pantatnya.

Kemudian,
Adam, suaminya itu, pulang dari tualang,
mendapati istrinya, menggigi karena asam.

“Siapa yang menggodamu?” Adam bertanya.
“Buah mangga itu sendiri,” jawab istrinya.

Adam pun diam.
Ia tatap mata istrinya, dan berkata
“Kau tentu tahu, di surga, tuhan tidak pernah menginginkan kelahiran.”



Air

Air berlari melewati pipa itu,
datang bertekanan rendah. Lalu wadah
berdiameter 50 cm, menampung
segala benturan. Air tidak tewas.
Mengisi kembali silsilah tumpah.

Dalam wadah, air digunakan.
Membasuh utuh tubuh gelas,
sendok, mangkok, piring, kemudian teplon.
Serta panci, serta kuali,
memantaskan kembali sabun
yang telah lebih dulu, melepas lemak–katamu,
lemak yang melekat.

Dalam wadah, air bergelombang. Seperti sekali lagi
menyatakan,
tidak bisa disamakan,
yang dibuat karam, yang dibuat tenggelam.

Dalam wadah, air membersihkan.


Hidangan

secentong nasi yang kau rebahkan di atas piring
membebaskan air
melangkah kembali
mendatangi daur
menasbihkan getir sayur

Sampai,
akhirnya,
perutku kembali mengendur.



Lanskap Perahu

dan laut, memisahkan kita cukup jauh. perahu tambah usang.
garis pantai, hanya pemikiran kita yang verbal. kemudian,
perlahan-lahan, kita mulai saling melupakan. perahu
menyisakan tulang. tandas, dibiarkan begitu saja
bersandar. ia tak lagi oleng. karena yang selalu menyentuhnya,
tak pernah lagi mampu membawa. namun meninggalkan,
basah yang cukup, dan memastikan, tidak ada lagi
yang turut terserak. di antara tumpukan buih dan pasir.



-----------
Oky Sanjaya, lahir di Sanggi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, 13 Oktober 1988. Alumnus di Jurusan Pendidikan MIPA Fisika Universitas Lampung. Buku puisinya, Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan (2009).


Lampung Post, Minggu, 8 Juni 2014

Sunday, June 1, 2014

Sajak-sajak Yuli Nugrahani

Lelaki di Batang Tapak Liman

Sedetik ketika tanah dekil menumbuhkan biji gulma
tapak liman menggeliat dari sela kerikil menjelma pagi.

Lelaki itu sudah menunggu sejak subuh belum bertabuh
mesra merayu di gerigi daunnya yang lancip berpeluh.

"Aku menumpang udara mengambil semesta yang kuperlu
juga kesempatan merapat di batangmu, Kekasih."

Lelaki itu mengikatkan diri pada tangkai tapak liman
ikut menjulur pada titik tumbuh merangkai ketinggian.

Tak ada yang bisa membatalkan hasratnya
terlebih ketika luka ikut menjadi balatentara.

"Aku akan tetap di sini menunggu ungu di pucukmu
sementara serupa kasim tersemat takdir, tak mengapa."

Lagak tapak liman tak terduga tak terkenali tabiatnya
pun lelaki itu bersabar terus menyapa Kekasih, Cahaya.

Pada batang tegak dan daun yang setia merapat tanah
dia percaya sedang menuju hakekat tantra sempurna.

Inilah saat dia mengemas seluruh masa sebagai penantian
hingga nanti suara lugas berucap di seluruh nada Amin.

(2013—2014)



Perempuan

Ini perempuan kelewat batu

Kurusetra bukan hanya tempat ksatriya
karena ke sanalah perempuan itu pergi
menangisi setiap huruf yang terhapus

"Kau sudah butakan inderawiku
lalu kau buka jendela. Jadi, di mana dunia,
Tuan, supaya kulanjutkan penciptaan?"

ini perempuan terlanjur gagu

kamus menjadi lembaran hancur
dibukanya halaman per halaman
andai satu saja masih tersisa

itulah kata yang akan diucapkannya.

(2014))



Liris

Para dakini mengiringku ke belukar walikukun
di tepi hutan jati pinggir sungai, menopangku
bersila memandang ke Timur, arah matahari
tengah menari dengan kaki telanjang, sembari
mengerling pada puluhan rusa-rusa jantan
yang menunggu musim bertemu pasangan.

Ada setetes embun (harusnya dua tetes,
setetes lagi dijumput cahaya yang tidak sabar
menantiku datang, dijadikan mata cincin
cemerlang di ujung paruh manyar) tersenyum,
aku juga tersenyum menggapainya, pelahan.

Tentu, tentu saja aku memiliki segala hujan
deras setiap detik bisa kureguk, melimpah.
Tapi embun, setetes embun di ujung jari,
meluapkan dunia kecilku jadi puisi dan tari.

Tapi embun, setetes embun di ujung jari,
membuatku bertangan bermata berhati utuh,
ditarik kutup-kutup simetris yang manis.

Jadi, jangan lagi
kau pertanyakan, dia

milikku.

(2014)


---------------
Yuli Nugrahani, lahir tahun 1974. Tinggal di Hajimena, Lampung. Aktivis bidang justice and peace, mulai memublikasikan puisi tahun 2013. Selain puisi, ia juga menulis prosa yang dimuat di berbagai media. Buku puisinya yang baru terbit, Pembatas Buku (2014).
   

Lampung Post, Minggu, 1 Juni 2014





Sunday, May 25, 2014

Sajak-sajak Isbedy Stiawan Z.S.

Dari Tubuh Hujan

tubuh hujan semakin jauh
dari sisa jejaknya tak bisa
lagi kubaca namamu

juga permata yang selalu
menyilau dari tubuhnya

mungkin di ujung petir
debar dadaku memanggil;

kau telah ditakdirkan
bercahaya dari jutaan batu
di dalam tanah,

menyeru-nyeru

26.12.2013





Kata Puisiku, Tubuhku Rindu

1
jika kau hanya mencintai puisiku
kau akan mendekap ke tubuhku
sekiranya kau ingin memilikiku
maka puisiku akan menolak kausentuh

dengan rindu apa kau dapat mendekati puisiku
senyum yang kaulukis di tubuhku
tak pernah jadi puisi

2
kata puisiku, tubuhku rindu:
namun jangan beri ciuman
dari pagimu yang bau alkohol

dulu katamu puisiku sewangi melati
hingga tersihir ke dalam ruang
seperti ngaceng belati
menusuk jantung; bersemi cintamu

hanya pada tubuhku
puisi akan raib dari ingatan

3
kata puisiku,

kita sepuisi
berlayar di atas bumi
menari hingga ke batas langit

dan hujan yang turun
menulis puisi ngungun
di tiap lekuk tubuhmu

"aku sudah menandai," kata puisiku

4
di kota mana
di penginapan yang mana
puisiku menuliskan untukmu
sepuas kecupan,
sedalam tanda

sepuah janji!
anak yang akan menjadi puisi
di hati...

5
kata puisiku,
kita sepuisi
tubuhku rindu

menghimpun katakata
sebagai tekateki
rahasia Ilahi

di sepanjang puisimu
aku tak lagi lelap...

Lampung, Akhir Desember 2013



Lalu Jalan Menunjuk Padamu

setiap meliwati laman ini
lalu jalan menunjuk padamu
aku tak cari arah lain
meski aku tak ingin berpapasan
apalagi menyapamu

lalu dengan cara apa
kukubur kenangan denganmu
pelan pelan?

sebab aku tahu di tubuhmu pualam
makin tumbuh banyak makam
menulis epitaph
atau cuma sebaris kalimat

sementara jejakku yang pernah
menulis kalam
mungkin sudah semakin kusam

tapi, kutahu;
suatu saat berbuah ayatayat

30 Desember 2013


----------
Isbedy Stiawan Z.S., lahir dan besar di Tanjungkarang (Lampung). Banyak menulis puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di pelbagai media massa daerah. Belasan buku cerpen dan puisi lahir dari tangannya. Terakhir, Perempuan di Rumah Panggung (kumpulan cerpen, 2013)


Lampung Post, Minggu, 18 Mei 2014



Sunday, May 18, 2014

Sajak-sajak Kinanthi Anggraini

Bunga Es

melihat malaikat jibril
memunguti bulu embun yang menempel
di setiap kaca di sekitar wawang tidur
serupa mendung yang surut bersama hujan
yang enggan menundukkan pandangan
saat memegang ekor petir dilangit-langit lemari

kerap kali sebuah benda tajam berkilau abu-abu
membenturkan taringnya di sisi ranting tubuh
serupa tahanan yang memonopoli perdagangan toko
duri-duri sombong sempurna dan kekal dengan prasangka

tapi tunggu, di matanya ada televisi
yang menyiarkan betapa buruknya perkiraan cuaca
getir beraroma pahit dalam tempurung kelapa beku
terbungkus oleh salju tiruan
tak terlihat ataupun kepanasan

sementara ingatan telah hilang tentang ikan-ikan,
daging giling dan sayur mayur
yang kulitnya tak sampai berkerut berhari-hari
sebelum sampai di mulut-mulut jagal bergigi

es terasa dingin
bersama manis gula yang terbawa oleh angin 
namun bunganya tak jua membeku
bunga yang menempel di atas
dinginnya perasanmu.

Magetan, 19 Maret 2014


Menanam Pasrah

barangkali aku tak bisa bergerak ke mana
untuk sekedar mendekat atau minum seadanya
bagiku itu bukanlah takdir yang pahit
kala tanah meretak dan resapan semakin sulit

kerap kali riang kala gerimis menyambang
menempel pada celah dan berkenan menggenang

berawal dari benih yang jatuh dari paruh
di pelataran merah bercampur kerikil, pasir,
dan batu-batu tambang
di depan goa putih kokoh yang berdiam, kala
langit menghitam dan badai meminta persembahan

daun, cabang, tumbang, lumpuh, dan hilang
tercabut dari tanah
hingga mengering ataupun musnah
kepasrahan yang takkunjung hilang
saat pandangan mata luntur dan berbayang
tak henti napas bersyukur, atas lahir dan berkah umur.

Magetan, 14 April 2014


Terlarang
: Wiji Thukul

suara beradu menggelegar
bersama gerak mulut menggelepar
tangan-tangan yang bergetar
yang belum sepenuhnya gentar

kami beradu argumen
di antara dinding semen permanen

sementara tak beradu mata
namun kami beradu kata
kata yang dipasung
diobrak-abrik tak keruan

kau hanya ingin aku menyaksikan
permainan adegan di pelataran
dengan segala bualan kepemimpinan
mengubur dan mengintimidasi papan
di mana pun sepanjang kau berjalan

dengan senyum hanyut pilu
menimbun tubuh bersama tulisanku.

Surakarta, Januari 2014



Namsan

malam ini sebuah kunci kulempar di atas kota
bersama lampu yang berkelip di bawah senja
mereka hidup di tepian salju yang bertumpuk
berongga di jaket dan syal ungu yang kupeluk

kakiku menggantung di menara komunikasi
menjulang setinggi 263 meter di atas bumi
diantara jajaran gedung 605 kilometer persegi
dalam perut gunung namsan, 24 tahun berdiri

di sinilah ribuan merpati rapat berpejam janji
dengan gembok yang sengaja kehilangan kunci
ribuan nama dan pesan yang dahulu menghuni
dari sepasang harapan yang merayu untuk abadi

sementara ujung hidungku mulai memerah
di kota seoul, dengan kerudung kuning cerah.

Magetan, 1 Maret 2014


------------------
Kinanthi Angraini, lahir di Magetan, 17 Januari. Mahasiswi Pascasarjana Pendidikan Sains, UNS Solo, ini juga pernah menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011. Menulis puisi dan reportase. Karya puisinya pernah dimuat di belasan media dan buku antologi.


Lampung Post, Minggu, 18 Mei 2014



Sunday, May 11, 2014

Sajak-sajak Ahdar

Dua Kata Saja Untukmu

Tengoklah di kampung kau sana, engkau dengan mudah dicap dengan atribut dua kata saja: sukses atau gagal, menang atau kalah.
Tak dihiraukan oleh orang kampungmu itu betapa dahsyat robeknya kemanusiaanmu demi kesuksesan yang telah engkau raih.
Engkau boleh tutupi setiap bait kemunafikan yang telah engkau gadaikan demi sebuah kata harga mati yakni sukses.
Engkau boleh jadi pulang dengan wajah lusuh pakaian kumal ditambal tetapi membawa hati yang cerah merdeka sebagai seorang manusia.
Engkau boleh berucap: aku telah belajar! Aku telah belajar! Dan sekarang aku lapar tak punya uang, ajaklah aku sebentar untuk singgah di rumahmu demi seteguk air dan sepiring nasi.
Engkau boleh jadi akan diundang masuk, tapi mata tuan rumahmu berkata membisu engkau tetap gagal! Karena tak ada kemilau di badanmu.

Eindhoven, 22 Oktober 2003


Menari Aku

Sepanjang hari-tujuh hari sepanjang malam sepanjang minggu, kau telah sibakkan rambutmu menjadi sebilah pedang yang membabat-babat,

habislah! terbanglah!
menjadi serpihan-serpihan kecil yang direkap oleh angin dan untaian cahaya.
Mimpiku, menari aku di atas rambutmu yangdikerpak-kerpak angin penuh bau balsem bercampur minyak kemiri lawang wahai sang kekasih!

kibaskanlah!

rentanglah jadi selembar jembatan titian rambutdibelah tujuh untuk bantu aku meniti menujumu.

Maastricht, November 2004


Deviasi 20%

dari patokan koordinat polar nol di bulan april
menujutitik deviasi 20%
aku melihat dan mendengar dari jauh
mendekat rapat semakin dekat
tatap hangat dan hinggap terjerat dalam maklumat
dalam hitungan tahun tak berbilang
aku reverting menuju garisbatas
demi menyesuaikan diri dengan hukum alam
yang absolut
menuju titik tengah tanpa kompromi
deviasiku adalah deviasi 20%
yang luber di bulan juni
bersama waktu menggenapi hitungannya
dalam kerlingan sang dewi.

Maastricht, Juni 2004


Datanglah ke Mari Kawan, Aku Rindu Engkau

gimana cuaca di sana? tanya kawan eksil. Angin? badai? dingin? cerah gak matahari? so pasti sobatku, cuaca Maastricht selalu lebih cerah dari Edesil, Eindhovensil, Amsterdamsil, Almeresil, si Sil, si Sil, seperti sprinkelnya hatiku mendengar engkau mau bertandang kemari. Oh selain itu, suhu politik aman karena kita bukan di negeri bersulang, bukan negeri arang, kata si rieke pitaloka, si cantik yang tak pernah datang kemari,

engkau tak akan pernah bosan di sini sobat, ada sejuta objek yg kau bisa abadikan dalam lensamu, untuk kau ceritakan ke buah hatimu yang lucu itu kelak. aku tunggu engkau di jembatan Maastricht kawan, tak jauh dari situ si musketeer dártagnan terbunuh dengan pedang lusuh di tangan, sembari berbisik pelan di saat-saat meregang nyawa, seakan-akan meninggalkan sebuah pesan buat anak negeri, tetapi cuma terujar sebaris kalimat pendek:
aduh ... aku ingin mati di Prancis bukan di sini, di negeri eksil.

Maastricht, 21 Juni 2004


Maulid Nabi
Kok Aku tidak ingat ya?
Ulang tahun nabi kita
Ah,
mungkin karena serpihan daging
Di gigi masih tersisa
Jadi aroma membuat aku lupa

Tilburg, Mei 2003


---------
Ahdar, penyuka puisi. Saat ini tinggal di Lancaster, Inggris.

 

Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2014

Sunday, May 4, 2014

Sajak-sajak Robi Akbar

Warahan

dengarlah tabuhan cetik dan kendang ini
akan aku ceritakan kepadamu
sebuah kisah tentang perang saudara
bukan
ini bukan kisah mahabarata
yang berselisih lantaran kekuasaan
ini kisah tentang perang saudara yang tersulut
lantaran hasut
yang terlalu deras tercerap
dan tanpa sadar telah membuat mata dan hati sasap
hari itu
kalianda berdarah kampungkampung dibakar dendam
orangorang dengan parang digenggam
dengan dada terbakar amarah
mengayunkan kebencian
rumahrumah hangus rata tanah
anakanak menangisi kakak lelaki dan bapaknya yang mati
perempuanperempuan muda menangisi kekasihnya
seorang ibu menjadi gila
anak dan suami tiada
ia menjerit
"hei
mengapa kalian bunuh saudara sendiri"
lalu tertawa geli
ia tak pernah tahu apa kesalahan anak dan suaminya
terakhir ia dapati dua jasad itu
terbujur kaku seperti cangkul di sebelahnya
darah
ia mencium anyir darah bercampur lumpur
dan sisa kenangan pagi
sebelum mereka berangkat ke sawah
jangan
jangan cari siapasiapa
untuk dijadikan kambing hitam
sebab ini bukan karena siapa salah dan siapa benar
dengarlah tabuhan cetik dan kendang ini

bi'14


Ingin Pulang

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
memetik berjuta kenang
tentang resah bayang
rumah
wajah emak juga abah
yang selalu menuntun langkah
dan keinginanku tuk pulang

di kota ini
selalu kusaksikan kaki-kaki peradaban
berpatahan
disapu angin dan kecurangan
tangan-tangan menggali lubang-lubang sunyi
menggali kubur bagi tradisi

di sini
orang-orang selalu lekas
bergegas
entah ke mana
di setiap simpang
saling tikam
lorong-lorong hitam
nasib semakin kelam

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
mengarus di jalan-jalan
menyusur ganggang lengang
kenyataan
tak pernah seindah seperti yang kita bayangkan

di kota ini
kalau ingin bertahan
asah pikir setajam belati
dan bersiaplah
menikam atau ditikam
jangan
jangan pernah tujukan belasmu
sebab itu akan membunuhmu

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
menjadi bah
membanjiri berbagai kisah keluh dan kesah
tentang orangorang lemah yang tenggelam
ditelan kecurangan
nasib dan kenyataan yang semakin kelam

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
menuntunku pulang

bi'14



Menatap Lemari Makan Tak Berisi

hari ini orang-orang akan pergi meninggalkanku
entah ke mana
mereka membawa entah apa
setumpuk kecamuk pikir
atau segumpal sakit hati
aku tak tahu
yang jelas
dari wajah-wajah yang terlihat sekilas
sebelum beranjak mengayunkan langkah pertamanya
nampak perasaan kecewa entah pada apa
perasaan sia-sia entah karena apa
di rautnya garis-garis luka
malang melintang seenaknya
hari ini orang-orang akan pergi
dan aku seperti kanak yang menatap lemari makan tak berisi
ibu mati
dan bapak berniat bunuh diri

bi'14


Arus yang Berbisik

seperti suara bisik yang perlahan menghanyutkan waktuku
arus itu
meriak di batu-batu
menyusur jalan yang tak pernah meninggalkan jejak baginya

dibawanya seluruh bayang
yang mengendap dalam ingatan
tentang tanah moyang
dan segala tradisinya yang semakin gersang

arus yang berbisik
ke muara manakah resah tujumu
meliuk di setiap tikung
melompat di setiap jurang
lewati malam-malam berlapis kabut
ke laut
alirmu semakin kalut

bi’14


Ular itu
ular itu
melilit keingin tahuanmu
di ranting pohon
dengan buah-buah ranum yang mengodamu
sebelum jarak dan waktu
mempersembahkan pisah kemudian

bi'14


Aku Masih di Sini

ketika kalian melepas lelah
dalam nyanyian blues dan tenggakan wisky
di cafe itu
petualangan panjang yang usai kalian lalui
benarbenar tak menyisakan tanda
bagi teks-teks yang hilang dari kenangan
aku masih di sini
di jalan ini
masih menyusur peta yang selalu gagal kubaca arahnya
aku sasar
hilang dalam selasar
antara kabut-kabut dan lengking hyena di kaki kilimanjaro
siapakah yang meledakkan peluru
dalam kesuraman malam
perahu-perahu karam di kening kalian
aku masih di sini
di cekam ketakutan
di antara tanah-tanah yang pecah
di antara kemarau dan sejarah yang resah

bi'14


-------------
Robi Akbar, lahir 3 Oktober 1978. Pernah bergiat di Teater Satu Lampung. Sekarang lebih memilih menulis saja.


Lampung Post, 4 Mei 2014