Keindahanku
Angin dari barat,
selendang merah
berayun begitu cepat.
Tapi tiba-tiba hanya suara
yang perlahan mengecil.
Menjadi sangat kecil,
Bisikan-bisikan yang menakjubkan.
Tubuhku menari
Walau aku tidak mengerti
apa arti tarian ini.
Cahaya-cahaya malam,
sebuah lilin yang dapat menghiburku
Tapi hujan terlalu cepat turun
Lampu padam dan menjadi senyap
Aku memimpikan negeri yang sangat jauh
Berlayar meninggalkan kota gelapku
Suara-suara teriakan memanggil namaku.
Aku terus berjalan sambil membawa senyumku
Dan bila saja kau percaya, bahwa sesungguhnya
aku yang membantumu menyentuh yang indah
Buku Tua tentang Indonesia
Ada gaun putih kaku di bangku kayu
Bangku yang bertahun didatangi hujan dan kemarau
Ada seekor burung kecil hinggap di depan rumah panggung
sementara di kejauhan, lonceng gereja berdentang memecah sunyi
Kain hitam yang menutupi wajahku
adalah langit yang memeluk malam
Bangunan-bangunan tua yang sering kudatangi
adalah pohon-pohon hijau tempat burung-burung
membangun sarang, bertelur, dan belajar terbang
mengenal dunia, juga mengenal sayapnya sendiri
Di tanah yang subur ini
Kuhirup aroma dupa yang merebak
Dari candi dan pura
Kulihat lilin-lilin dinyalakan di permukaan danau
Dan seorang wanita berkerudung merah
Berdoa di pinggirnya
Buku-buku tua yang diwariskan para leluhur
Adalah buku yang sama dengan buku yang berjatuhan
dari mimpi ibu Pertiwi
Kata-katanya bermunculan, membentuk kalimat
Menjadi upacara-upacara adat dan lautan kenangan
Lalu anak-anak membacanya di bawah pohon
di antara gelak tawa, petak umpat, dan permainan congklak
dan usai salat subuh para penyubuk1) kecil
akan menggangguku dengan topeng sekura2)
Tapi kini di antara rimbun bakau, kulihat ombak yang lampau
ombak yang pernah melayarkan perahu kecil
perahu yang membawa teman-temanku menjauh
ke dunia maya, dunia tanpa peta
Dan lewat sajak ini
aku terus menyeru mereka kembali
Ke bumi dimana pertiwi menanti
Istana Kepresidenan Bogor, 9 Agustus 2014
1) Para bujang atau anak laki-laki yang menggoda teman perempuan dengan menggunakan sarung untuk menyamarkan diri mereka
2) Topeng khas Lampung yang biasanya dikenakan pada pesta topeng setelah Idulfitri
Mata yang Menjauh dari Teduh
Mata yang menjauh dari teduh
Senyum yang hilang dari wajah
Aku sendiri, tanpa ingin dan angan
Sepatu lama kuletakkan di depan pintu
Di lapangan cokelat anak-anak bermain
Bertelanjang dada di bawah matahari merah
Peluh menjadi keluh
Aku tertegun membayangkan diriku
Kepayahan dilanda rindu, berlari di bawah hujan
Mengejar permainan yang telah tak ada
--------
Rarai Masae Soca Wening Ati, siswa Kelas IX SMP Global Surya, Bandar Lampung. Prestasi terakhirnya, setelah menang di tingkat provinsi, ia meraih juara pertama Lomba Cipta Puisi SMP dalam Festival Lomba Seni Siswa Nusantara (FLS2N) tingkat nasional (2014).
Lampung Post, Minggu, 25 Januari 2015
Angin dari barat,
selendang merah
berayun begitu cepat.
Tapi tiba-tiba hanya suara
yang perlahan mengecil.
Menjadi sangat kecil,
Bisikan-bisikan yang menakjubkan.
Tubuhku menari
Walau aku tidak mengerti
apa arti tarian ini.
Cahaya-cahaya malam,
sebuah lilin yang dapat menghiburku
Tapi hujan terlalu cepat turun
Lampu padam dan menjadi senyap
Aku memimpikan negeri yang sangat jauh
Berlayar meninggalkan kota gelapku
Suara-suara teriakan memanggil namaku.
Aku terus berjalan sambil membawa senyumku
Dan bila saja kau percaya, bahwa sesungguhnya
aku yang membantumu menyentuh yang indah
Buku Tua tentang Indonesia
Ada gaun putih kaku di bangku kayu
Bangku yang bertahun didatangi hujan dan kemarau
Ada seekor burung kecil hinggap di depan rumah panggung
sementara di kejauhan, lonceng gereja berdentang memecah sunyi
Kain hitam yang menutupi wajahku
adalah langit yang memeluk malam
Bangunan-bangunan tua yang sering kudatangi
adalah pohon-pohon hijau tempat burung-burung
membangun sarang, bertelur, dan belajar terbang
mengenal dunia, juga mengenal sayapnya sendiri
Di tanah yang subur ini
Kuhirup aroma dupa yang merebak
Dari candi dan pura
Kulihat lilin-lilin dinyalakan di permukaan danau
Dan seorang wanita berkerudung merah
Berdoa di pinggirnya
Buku-buku tua yang diwariskan para leluhur
Adalah buku yang sama dengan buku yang berjatuhan
dari mimpi ibu Pertiwi
Kata-katanya bermunculan, membentuk kalimat
Menjadi upacara-upacara adat dan lautan kenangan
Lalu anak-anak membacanya di bawah pohon
di antara gelak tawa, petak umpat, dan permainan congklak
dan usai salat subuh para penyubuk1) kecil
akan menggangguku dengan topeng sekura2)
Tapi kini di antara rimbun bakau, kulihat ombak yang lampau
ombak yang pernah melayarkan perahu kecil
perahu yang membawa teman-temanku menjauh
ke dunia maya, dunia tanpa peta
Dan lewat sajak ini
aku terus menyeru mereka kembali
Ke bumi dimana pertiwi menanti
Istana Kepresidenan Bogor, 9 Agustus 2014
1) Para bujang atau anak laki-laki yang menggoda teman perempuan dengan menggunakan sarung untuk menyamarkan diri mereka
2) Topeng khas Lampung yang biasanya dikenakan pada pesta topeng setelah Idulfitri
Mata yang Menjauh dari Teduh
Mata yang menjauh dari teduh
Senyum yang hilang dari wajah
Aku sendiri, tanpa ingin dan angan
Sepatu lama kuletakkan di depan pintu
Di lapangan cokelat anak-anak bermain
Bertelanjang dada di bawah matahari merah
Peluh menjadi keluh
Aku tertegun membayangkan diriku
Kepayahan dilanda rindu, berlari di bawah hujan
Mengejar permainan yang telah tak ada
--------
Rarai Masae Soca Wening Ati, siswa Kelas IX SMP Global Surya, Bandar Lampung. Prestasi terakhirnya, setelah menang di tingkat provinsi, ia meraih juara pertama Lomba Cipta Puisi SMP dalam Festival Lomba Seni Siswa Nusantara (FLS2N) tingkat nasional (2014).
Lampung Post, Minggu, 25 Januari 2015
No comments:
Post a Comment