Showing posts with label Alya Salaisha-Sinta. Show all posts
Showing posts with label Alya Salaisha-Sinta. Show all posts

Sunday, December 8, 2013

Sajak-sajak Alya Salaisha-Sinta

Tentang Gerimis Sore itu
:Ais


/1/
sore itu aku melihatmu
duduk di samping lelaki
yang kau sebut Ayah

kau
lalu bercerita
tentang gerimis
yang membasahi
ujung rambutmu

bahkan
kau sempat memungutnya satu
untuk kau hadiahkan padaku
: lalu kuterima
jadi setetes air mata


/2/
gerimis sore itu
sedikit tak ramah

aku diamdiam
mengutuk musim
yang hampir mengacaukan
jadwal perjalananku

tapi kau bilang
tak boleh marah

sebab alam
sedang meluruhkan cerita
tentang masa kekanak
yang telah lama hilang

lalu kau
tibatiba mengajakku
menari di antara gerimis
memungut kenangan yang berserak
lalu menyusunnya lagi
menjadi selembar catatan


/3/
langit sore itu
meluruhkan gerimis
yang jatuhnya tegak lurus
seperti jarum menghujam perlahan
ke kulitkulit bumi

lalu kepada
tetes yang paling tajam
aku luruhkan wajahmu ke dalamnya

hingga suatu hari nanti
kutemui wajahmu berguguran
seperti hujan…

Cikarang, 19 November 2013




Surat untuk Ibu

ayahku
sudah duduk di atas sepeda
-seperti harihari sebelumnya-
menungguku menyelesaikan
selembar surat untuk
sarapan Ibu pagi ini
walau yang kutulis selalu sama
-resep nasi goreng ikan teri-
ayah tak pernah bosan mengantar

siang nanti
giliran kakakku
yang menulis surat untuk Ibu
entah apa yang ditulisnya
tapi kulihat dia sempat
mengumpulkan embun tadi pagi

malam nanti
ayah yang akan menulis surat
tak lagi tentang nasi goreng atau embun
mungkin tentang rindu
yang selalu ayah gantung di pintu kamarnya

kali ini
ayah tak ikut mengantar suratnya sendiri
sebab kemudi sepeda ayah
sudah sangat hafal, di mana alamat Ibu

Cikarang, 19 November 2013



------------
Alya Salaisha-Sinta, lahir di Jombang, 26 Maret 1986. Menulis puisi dan mengikuti lomba baca puisi sejak di bangku kuliah di Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Sejumlah puisinya dimuat di berbagai media dan antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 8 Desember 2013

Sunday, February 3, 2013

Sajak-sajak Alya Salaisha-Sinta

Perempuan yang Menyimpan Api


perempuan yang diam-diam menyimpan api dari percikan hutan
di musim kering itu, kini semakin memendam ingatan masa silam

kalau kau kecewa jangan lemparkan batu ke perempuan itu: ia
hanyalah bayang dari langkah dan gerakmu. perempuan selalu
menunggu kenangan untuk lalu dilukiskan di langit. biarlah udara
yang menghapus. biarkan malam yang mengelamkan

jangan pernah ingat tentang kenangan ataupun silam; perempuan
telah mengabaikan setiap angka jam yang ingin mundur. "pandanglah
selalu di depanmu, sebab ke situ langkah diayunkan!"

maka usah ingat masa silam, kalau tak bisa merancang masa depan:
perempuan itu, yang diam-diam menyimpan api, akan membakar
waktumu...

13 Agustus 2012



Menyulam Airmata

selebihnya biar kunikmati
perahumu yang hampir karam
debur ombak kian nanar
desir pasir kian garam

kau menuliskan puisi terakhir
di lengan dayung

tidakkah kau tahu
aku bisa menyulam airmata jadi layar
menyusun keringat jadi perahu baru
bahkan rambutku bisa bernyanyi bersama angin

tapi aku diam
sebab kau diam
lalu tak lama: hilang

Cikarang 10 Mei 2012




Karena Aku Masih Menyimpan Namamu

(namamu masih mengakar karena itu kutunggu
jadi batang, tumbuh daun, dan berbuah)

biar pun malam berganti
dan hari meluncur jadi kalender
namamu tetap akan tertanam
sebagai pohon yang rindang

karena aku masih menyimpan namamu
taklah bisa kuhapus riwayat itu

betapa aku hapus kenangan
riwayat-riwayat akan menjadi

di kota lama beraroma kopi
jalan-jalan yang mendaki
mengikatkan riwayat
: sebagai ayat

aku akan baca kelak
bila tahun-tahun
ingin melupakan

bukan sebagai marcopollo
setelah menemukan negeri
lalu ditinggalkan
untuk kembali tualang

karena aku masih menyimpan namamu
riwayat-riwayat akan terus
membaca ingatan

dan kau,
segala halaman itu...

Mei 2012



Ihwal Benih Kini Jadi Pohon

            akan kutanam benih ini…

benih yang kautitip bersama hujan dan angin
di minggu siang, lihatlah menjadi pohon
                        di halaman belakang;
rindang daunnya, tegak batangnya
            kutancapkan masadepanku di akar-akar
agar nantinya melingkar bagai ular yang desisnya
sampai ke peraduanmu

                                    jangan catat hari minggu
berhujan itu, karena sudah mengekal dalam pohon
di halaman belakang. namun jangan ingat ihwal
benih yang dulu kautitip pada hujan dan angin

            ia sudah jadi hunian: bagiku berteduh
            dari bulan-bulan yang gerhana
            atau matahari yang abuk!

Cikarang 2011-Natar Lampung Selatan 2012




Celoteh Matahari Menjelang Pagi

Di pagi buta bulan Oktober
Matahari kecil itu
Berceloteh tentang embun
: mengecup ubun-ubun

Tahukah kau, matahari itu
Telah lama kugali bersama air mata
Hingga sungai-sungai hidup di pipiku
: aku merindukanmu

Maka tak bosan aku menimangmu
Dengan nyanyian paling merdu
Sampai habis segala syair
Segala yang liris
Dan jalan mengantarku pulang

2011


-------
Alya Salaisha-Sinta,
lahir di Jombang, Jawa Timur, 26 Maret 1986. Menulis puisi dan mengikuti lomba baca puisi sejak di bangku kuliah di Politeknik Unila (kini Politeknik Negeri Lampung—Polinela). Sejumlah sajaknya dimuat di berbaai media dan antologi bersama. Alya yang baru saja mendapat momongan ini, bolak-balik Lampung-Cikarang.


Lampung Post, Minggu, 10 Februari 2013