Sunday, March 9, 2014

Sajak-Sajak Riki Utomi

Sunyi Luka

dapatkan kau berkata dengan lirih saja dari
goresnya yang menyentuhmu. lihatlah pada
matamu hanya menyisakan pejam yang semakin
rapat. tak ada ucap tapi sunyi yang terus melekat.

tahukah kau tentang luka itu? dia hanya sebuah
kesunyian yang kau nantikan. kesunyian yang
mampu menenggelamkan perih dan nyeri.
diam-diam kau mengharap mimpi untuk
melupakannya.

lalu luka itu menjalar. membuat debar dalam
sekujur tubuh. luka yang sunyi selalu menciptakan
mimpi untuk kau arungi sampai gelap terasa
tubuh ini.

(telukbelitung, februari 2014)



Kemungkinan Lain

untuk itu kau membuang kata-kata yang dapat
menyeruak pilu. bagimu tak ada gunanya
menyimpan itu. hanya menumpahkan air mata
yang sulit dihapus oleh puisi sekalipun.

kemungkinan lain kau mengharap mendung
bukan sekadar untuk hujan. tapi untuk diam
lebih khidmat. diam akan membuat hati dan
pikir bagai waktu pagi yang hening memeluk.

(telukbelitung, februari 2014)


Ujung Tombak

katamu ujung tombak tidak sekadar harapan.
tapi kepastian dengan gigil bila dihadapkan.
pada ujungnya segala bentuk hidup semakin
berpusar pada debar nyawa.

sudikah kiranya kau anggap itu hanya angan
belaka. sebab ada lena yang mengharukan
bila diucap. runtut ucapnya menimbulkan
luka. bila di sana kau menjadi fokusnya akan
buyarlah sepi itu tadi sangat ketara.

pada ujungnya hanya ada satu titik menandakan
satu tujuan. adakah kau menghela bila sampai
di sana? adakah kau meneteskan air mata
bila tepat detak nyawamu menghapus harapan?

(telukbelitung, februari 2014)


Diam Daun

diam daun bukan berarti bisu. dia kokoh
dengan caranya melihat kita. serat-serat
tubuhnya menyimpan harap dari tuhan.
ranting sebagai tempat pegangan bagi
jatuh tubuhnya yang mampir di selokan.

bisu pada daun bukan berarti kekalahan.
sunyi telah membentuk tubuhnya untuk
semakin hijau. ketuaan adalah rancu
tanpa sinar matahari. di sana kaki-kaki
digelitik oleh banyak godaan untuk
melangkah ke jalan abadi.

kekalahan bukan berarti mati pada dirinya.
meski rapuh dan jatuh di selokan takkan
membuat tubuh daun lenyap begitu saja.
harapnya akan terus ada memenuhi kita.
risaunya semakin padat ke pikir kita.

(telukbelitung, februari 2014)


Rapat Pintu

menutup pintu sebuah keharusan bagi kita.
nun di sana pada harum bunga adalah ibarat
nyawa dari pintu yang celaka terbuka.
tak ada yang diharapkan dari murka itu
tak ada yang disesalkan dari sia-sia itu.

pada tubuh-tubuh kita juga ibarat bunga.
kelopak harumnya mampu membuat hidup
lebih lama; diam-diam mencoba memangsa
dari latah dan goyah kita.

rapat pintu semacam keharusan pada kita.
tubuh-tubuh kita akan tak mengenal auman
tajam yang membuat gigil di sunyi yang purba.

(telukbelitung, februari 2014)


----------
Riki Utomi, lahir di Pekanbaru, 19 Mei 1984. Menamatkan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau. Pernah aktif di FLP Riau. Tinggal dan berkarya di Selatpanjang, Riau. Buku cerpennya Mata Empat (2013).

 

Lampung Post, Minggu, 9 Maret 2014

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete