Sunday, March 23, 2014

Sajak-Sajak Dahta Gautama

Rumah Penyair

Lelaki

Ia sudah tak mengenal tata cara yang benar menulis puisi.
Maka ia bilang kepada semua tamu yang datang
bahwa ia bukan penyair. Begitulah, mungkin lelaki itu sudah menjadi
apa yang disebut istrinya sebagai lelaki yang tak ingin menjadi berpikir.

Namun tak rela jika orang tak mengenalnya sebagai penyair.
Mengajari anak menulis puisi
Baiklah, ayah akan membaca puisi untukmu
ini pelajaran pertama, terserah jika kemudian engkau
menjadi penyair perempuan yang baik. Maka jangan menulis
puisi-puisi tentang lelaki.
Bulan busuk itu berada di sudut paling utara.
Ia diam di sana, mungkin sebagai jawaban bahwa
kesetiaan adalah takdir yang paling alamiah.
Rumah kita yang berada di pinggir kali
kena sinarnya. Maka kita akan menyebutnya sebagai
rumah yang tersiram cahaya. Setelah itu
tidurlah menghadap utara, di tempat bulan itu tengkurap.
Puisi untukmu, yang tak pernah dipesan
telah ayah tulis.


Meninggalkan Rumah Sebentar

kesalahpahaman yang paling buruk adalah cemburu
yang tak memiliki bau. Ketika engkau telah menuduhku
sebagai suami yang suka wangi perempuan lain, aku demikian
tersuruk, tak memiliki kesan apa-apa, bahkan atas pengalaman
pertama kita di atas ranjang.
Untuk memahami bahwa Tuhan adalah zat yang tak mungkin diperdebatkan
oleh percakapan, agar dosa-dosa tak menjadi
pembicaraan yang buram. Izinkan aku meninggalkan
rumah kita yang sesungguhnya mulai ranum oleh kemesraan.


Bertemu Perempuan Muda

Aku berkenalan dengan banyak kecurangan di luar rumah.
Ketika perempuan muda lain, menghadiahiku kecurigaan yang
berbeda. Aku menyebutnya sebagai perselingkuhan yang tawar.
Sebab tak ada rayu atau pembicaraan nakal.
Cuma mata kita saling beradu, kemudian kita menyimpan
diri sendiri ke dalam hati yang selalu mengeram
ke sudut lain dari keisengan belaka.
Sungguh, aku tak pernah sudi memeliharamu
dalam bentuk yang nyata. Rasanya pahit jika
cinta diakui sebagai perasaan. Padahal setiap aku bertemu
perempuan muda, di kepalaku penuh dengan rencana lain
yaitu cara cepat untuk pulang ke rumah.


Berhenti di Stasiun Pengisian Minyak

Harga-harga melukai perasaan kita. Semua pasti sudah kenal
dengan kebohongan lain yang suka kita tutupi oleh
bunyi yang keluar dari lubang anginmu.
Di tempat ini aku berhenti, stasiun pengisian minyak.
Entahlah, aku mengenangmu dengan tiba-tiba.
Perasaan yang aneh.
Aku mengkhawatirkan dirimu dalam kondisi sakit
dan tak ada yang memberimu pil
padahal engkau telah sulit.
Benar, cinta pasti meninggalkan jejak yang licin
Kemana pun aku berada pasti tergelincir.


Tiba-Tiba Turun Hujan

Ini kutukan yang paling sakit.
Aku tak pernah sampai di rumah
Hujan pun turun dengan sadis.
Ia tiba-tiba menghantam
dengan cara basah.
Aku mengerucut sebagai lelaki yang tak mampu
menulis puisi lagi.
Sebab itu, hujan tak menarik
sebagai bahan untuk menuai kalimat.


Kangen Anak Lelaki


Mungkin dia sudah pandai buat teka-teki.
Oleh karena itu aku rindu.
Barangkali dia sudah menjelma lelaki
yang gemar merayu.
Wajah dia mengelana di dada
tak pernah luntur meski hujan kemarin
telah menghilangkan ingatanku tentang
bulan.
Aku akan bilang kepada dia
bahwa aku adalah ayah yang tak
bisa menulis puisi lagi.
Agar dia tak berharap
aku pulang membawa gerimis.


Perempuan

Sampai juga aku pada perempuan itu.
Cara dia berjalan serupa belati yang menghujam
kesadaran terhadap kejahatan.
Dia telah memberi rencana lain.
Bikin sejumlah kekerasan yang berbeda
sebab dia mampu melunakan kecewa yang
batu itu.
Selalu begitu, aku ingin menanggalkan
semua pakaiannya dan melihat perutnya
yang telah menghamili puisi.
Melihat isi matanya yang merana
sebab berumah bersama penyair
yang hanya menulis kata.
                                     
Tanjungkarang Barat, April 2013




-------------------
Dahta Gautama, lahir di Hajimena, Bandar Lampung. Belajar sastra secara otodidak sejak 1987. Selama satu tahun (1998) bermukim di Tokyo dan Kyoto, Jepang, bekerja untuk Japan Foundation sebagai peneliti. Kini pemimpin redaksi mingguan Dinamika News. Buku puisinya: Ular Kuning (2011) dan Manusia Lain (2013).


Lampung Post, Minggu, 23 Maret 2014



1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete