Showing posts with label Robie Akbar. Show all posts
Showing posts with label Robie Akbar. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

Sajak-sajak Robi Akbar

memupuk sunyi

sekarang apa lagi yang kamu inginkan?

cinta yang hampir tak dapat kita pertahankan
meluruhkan malam yang kesepian
di antara rinai gerimis
yang membasahi percakapan demi percakapan kita
tentang keikhlasan
dan nasib yang selalu gagal
kita ramalkan
selalu berbalik antara bayangan
dan kenyataan
cinta kita lebih serupa bunga raflesia
indahnya hanya sepasang mata kita
yang saling berpandang-pandangan
selebihnya
hanya kecemasan di hati
di dalamnya kita memupuk sunyi

bi’2014


pintu


aku menyelam
di kedalaman lautanmu
jiwaku sendiri
bersunyi
bersama terumbu karang ikan
dan cumi-cumi
sebab dataran-
hidup terlalu semerawut
seperti benang yang kusut
nasib sial
dan masa depan sulit diramal
kudaki relung gunung-gunungmu
puncak kesadaran
yang telah berkali-kali melemparkanku
ke tengah jurang
sebab lembah selalu pasrah
menampung sembah
zikir dan ziarah
sampai kematian
menjadi pintu
menjadi jalan menuju rumahmu

bi’2007-2013-2014



berjalanlah di sampingku

jangan takut
aku akan menjagamu dari segala kemungkinan
berjalanlah di sampingku
biarkan saja
segala cuaca
mencari celah untuk meluka
jangan hiraukan
meski malam
mendadak kelam
bulan dan bintang-bintang terbenam
aku akan menjagamu
menuntun ayunan langkahmu
sampai ke tuju

bi’2014


telah sampaikah kita 1

di setiap simpang
selalu
kudengar degub kecemasan di dadamu
begitu kencang
seperti burung-burung yang berlepasan
tapi di setiap kepakkannya
hanya
bayang-bayang dan berjuta kenang
menghantu dalam benakmu

bi’2014


sajak pesanan

apa yang kamu tunggu?

secarik sajakku akan menusuk kenangan
dan bayangan
di hati dan benakmu
seperti onak
bagi percintaan kita yang tak pernah direstui jarak
di sini
di kotaku
selalu kusisipkan sisa kenangan
pada sepotong bulan
yang pernah menjadi saksi cinta kita
apakah di kotamu
jalanjalan dan pasir pantai itu
masih menyimpan buram bayanganku?
entahlah
selalu ada celah
dari pikiran
dan sisa kenangan tentang kita
untuk merasuki luka
di pangkal perih hati
sekarang
sebelum kabut berangsur surut
ke arah pagi yang penuh kemelut
biar kuhadapi berjuta kalut
hingga malam kembali menjemput

bi’2014


----------
Robi Akbar, lahir 3 Oktober 1978 di Bandar Lampung. Mulai menulis sejak 1998 ketika masih bergabung dengan Teater Satu Lampung. Karya pernah dimuat di koran dan beberapa antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 16 Nevember 2014

Sunday, May 4, 2014

Sajak-sajak Robi Akbar

Warahan

dengarlah tabuhan cetik dan kendang ini
akan aku ceritakan kepadamu
sebuah kisah tentang perang saudara
bukan
ini bukan kisah mahabarata
yang berselisih lantaran kekuasaan
ini kisah tentang perang saudara yang tersulut
lantaran hasut
yang terlalu deras tercerap
dan tanpa sadar telah membuat mata dan hati sasap
hari itu
kalianda berdarah kampungkampung dibakar dendam
orangorang dengan parang digenggam
dengan dada terbakar amarah
mengayunkan kebencian
rumahrumah hangus rata tanah
anakanak menangisi kakak lelaki dan bapaknya yang mati
perempuanperempuan muda menangisi kekasihnya
seorang ibu menjadi gila
anak dan suami tiada
ia menjerit
"hei
mengapa kalian bunuh saudara sendiri"
lalu tertawa geli
ia tak pernah tahu apa kesalahan anak dan suaminya
terakhir ia dapati dua jasad itu
terbujur kaku seperti cangkul di sebelahnya
darah
ia mencium anyir darah bercampur lumpur
dan sisa kenangan pagi
sebelum mereka berangkat ke sawah
jangan
jangan cari siapasiapa
untuk dijadikan kambing hitam
sebab ini bukan karena siapa salah dan siapa benar
dengarlah tabuhan cetik dan kendang ini

bi'14


Ingin Pulang

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
memetik berjuta kenang
tentang resah bayang
rumah
wajah emak juga abah
yang selalu menuntun langkah
dan keinginanku tuk pulang

di kota ini
selalu kusaksikan kaki-kaki peradaban
berpatahan
disapu angin dan kecurangan
tangan-tangan menggali lubang-lubang sunyi
menggali kubur bagi tradisi

di sini
orang-orang selalu lekas
bergegas
entah ke mana
di setiap simpang
saling tikam
lorong-lorong hitam
nasib semakin kelam

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
mengarus di jalan-jalan
menyusur ganggang lengang
kenyataan
tak pernah seindah seperti yang kita bayangkan

di kota ini
kalau ingin bertahan
asah pikir setajam belati
dan bersiaplah
menikam atau ditikam
jangan
jangan pernah tujukan belasmu
sebab itu akan membunuhmu

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
menjadi bah
membanjiri berbagai kisah keluh dan kesah
tentang orangorang lemah yang tenggelam
ditelan kecurangan
nasib dan kenyataan yang semakin kelam

hujan turun
rintiknya yang berjatuhan
menuntunku pulang

bi'14



Menatap Lemari Makan Tak Berisi

hari ini orang-orang akan pergi meninggalkanku
entah ke mana
mereka membawa entah apa
setumpuk kecamuk pikir
atau segumpal sakit hati
aku tak tahu
yang jelas
dari wajah-wajah yang terlihat sekilas
sebelum beranjak mengayunkan langkah pertamanya
nampak perasaan kecewa entah pada apa
perasaan sia-sia entah karena apa
di rautnya garis-garis luka
malang melintang seenaknya
hari ini orang-orang akan pergi
dan aku seperti kanak yang menatap lemari makan tak berisi
ibu mati
dan bapak berniat bunuh diri

bi'14


Arus yang Berbisik

seperti suara bisik yang perlahan menghanyutkan waktuku
arus itu
meriak di batu-batu
menyusur jalan yang tak pernah meninggalkan jejak baginya

dibawanya seluruh bayang
yang mengendap dalam ingatan
tentang tanah moyang
dan segala tradisinya yang semakin gersang

arus yang berbisik
ke muara manakah resah tujumu
meliuk di setiap tikung
melompat di setiap jurang
lewati malam-malam berlapis kabut
ke laut
alirmu semakin kalut

bi’14


Ular itu
ular itu
melilit keingin tahuanmu
di ranting pohon
dengan buah-buah ranum yang mengodamu
sebelum jarak dan waktu
mempersembahkan pisah kemudian

bi'14


Aku Masih di Sini

ketika kalian melepas lelah
dalam nyanyian blues dan tenggakan wisky
di cafe itu
petualangan panjang yang usai kalian lalui
benarbenar tak menyisakan tanda
bagi teks-teks yang hilang dari kenangan
aku masih di sini
di jalan ini
masih menyusur peta yang selalu gagal kubaca arahnya
aku sasar
hilang dalam selasar
antara kabut-kabut dan lengking hyena di kaki kilimanjaro
siapakah yang meledakkan peluru
dalam kesuraman malam
perahu-perahu karam di kening kalian
aku masih di sini
di cekam ketakutan
di antara tanah-tanah yang pecah
di antara kemarau dan sejarah yang resah

bi'14


-------------
Robi Akbar, lahir 3 Oktober 1978. Pernah bergiat di Teater Satu Lampung. Sekarang lebih memilih menulis saja.


Lampung Post, 4 Mei 2014

Sunday, March 31, 2013

Sajak-sajak Robie Akbar

Membangun Rencana

Malam telah menjulurkan lidahnya yang hitam
Bulan bersinar memang
Dan cahaya lampu  lampu temaram
Menyamarkan bayang bayang pepohonan
Ditepi jalan
Tangan tangan kecemasan
Menggali lubang lubang bagi kekosongan
Menyusun impian anak anak yang terlelap
Agar hidup tak lagi kalap

Kau dan aku dan waktu
Yang kita lewati dalam percakapan percakapan
Panjang tentang masa depan
Mungkin tak akan merubah apa apa
Bangkai bangkai masa lalu
Yang kita kuburkan kemarin
Bangkit lagi hari ini
Mengais ngais nasib kita
Dijalan yang sama

“aku tak ingin jadi sisiphus
Yang diperbudak zaman
Atau promotheus
Yang diberangus peradaban”
Katamu

Sekali lagi kita lewati waktu
Dalam percakapan percakapan yang panjang
Menyusun impian
Menata harapan
Membangun rencana
Bagi esok yang samar
Atau lusa yang gemetar

Bie 2013


Anakku Bertanya

Anakku bertanya pada burung dalam sangkar
Tentang arti kemerdekaan pada suatu pagi yang samar
Ketika rumput rumput masih berselimut kabut
Dan embun belum bergelayutan di halaman
Lalu burung itu terbang kesana kemari
membentur suram dinding sangkar berkali kali
Menjerit jerit dalam kicauannya

“mengapa aku dikurung di tempat ini?”

Anakku diam
Burung itu juga diam
Kuhirup udara pagi dingin dan sunyi

Bie 2010-2013


Terjebak

Bagaimana mungkin bisa kulupa
Tangantangan dengan jemari dan kuku kuku runcing
Yang menggali jurang dan palung palung kehampaan
Telah kuikhlaskan warna warni kecemasan
Pada ketiadaanmu
Dada yang membusuk
Dan kota yang hiruk pikuk
Kuserahkan berabad abad musim
Pada bulan dan matahari
Hingga waktu
Hanya menghitung helai demi helai rambut
Yang memutih di kepalanya sendiri

Bagaimana mungkin bisa kulupa
Bayangbayang masalalu
Meski hujan lelah berjatuhan
Dan badai lupa arah menuju lautan
Ternyata
Cuaca tak bisa meramalkan masadepan
Dadaku telah membusuk
Tak lagi dapat menampung keluh
Dan menahan tangis
Pada ketiadaanmu
Aku terjebak
Dalam jurang dan palungpalung kehampaan
Yang kugali sendiri

Bie 2013


Kutunggu

Selalu kutunggu langkah angin menyapu daun kering
Di halaman
Dan kepak sayap kupu kupu yang gelisah
Ketika senja yang mulai menguning’
Hinggap ditangkai tangkai kehampaan
Waktu memancarkan bayang bayang
Dari bola bola lampu
Yang selalu menunggu untuk dinyalakan
Seperti juga aku
 menunggu kedatanganmu

kudengar ringkik jangkrik disela sela batu
dan cicak cicak yang bermain disuram dinding
berharap malam menepati janji
menjatuhkan saat bagimu untuk pulang
seperti laut yang selalu membawa ombak ketepi

kutunggu kedatanganmu
sampai kabut kabut merumput
dan angin menyapu kembali dedaun kering
dihalaman
sampai tetes embun
dan kicau burung burung
menyanyikan pagi yang bening
di depan pintu

bie 2013


Angin Itu
Angin itu seperti mengisyaratkan sesuatu
Seperti ada yang disampaikan kepadamu
Mungkin hujan
Atau bulan yang pingsan
Sehabis mabuk dalam kabut
Merayakan maut
Disudut langit yang kalut

Angin itu
Mungkin luka yang tertinggal
Atau memang sengaja ditinggal
Sebagai bayang bayang
Untuk kau kenang

Bie 2013


----------
Robie Akbar
, lahir di Tanjungkarang, Bandar Lampung, 3 Oktober 1978. Pernah berproses di Teater Satu Lampung. Sekarang aktif dan mengabdikan diri untuk kegiatan sosial. Sajak-sajaknya dimuat di beberapa media dan antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 31 Maret 2013