Showing posts with label Asrina Novianti. Show all posts
Showing posts with label Asrina Novianti. Show all posts

Sunday, January 5, 2014

Sajak-sajak Asrina Novianti

Jalanan Batu

sepanjang hari
kita terlempar
ke jalanan batu
yang buat gemetar

segala telah habis
usia membeku
menimang langkah
di lelah waktu

terjebak di riuh
yang padat
lupa ingatan
menimang hari
yang lumpuh

orang-orang terkapar
melempar kabar
yang menggelepar

tapi selalu saja debar
suaramu berdengung
di relung telinga
sehingga aku liat
dan mengingat rumah
atau sekadar jalan pulang
bagi tubuhku
yang hampir rubuh

ingin berenang
di rengkuh
lenganmu

/poris plawad, 2013




Stasiun Kramat

rel kereta ini akan membawaku
kepadamu
lurus besi
sunyi yang terbungkus
di tubuh para penumpang
menyimpan ruang

tapi gerbong kereta akan sesak
menyimpan bercak sakit
dan harum pintu rumah

di sana, anak-anakku
akan berlarian
dalam ruang tunggu
dan bergantian
menyebut, "ibu!"

hanya ada dengung suara
jadwal kereta
yang singgah
dan jejak langkah
tergesa

/2013



Fatamorgana

mungkin engkau adalah lengking
harap yang jauh. seperti kusisakan
pelukan di tubuh dinginmu
kita mendekap hujan yang kalut itu

tapi kota ini begitu tergesa
selalu terlambat sekadar mengeja
tak ada pintu yang terbuka
seperti juga aku masuki
dirimu dari segala sisi

/2013



Labirin Perempuan

engkau adalah gaduh tubuh
yang menggeliat
dan terus kucecap dengan hangat
sampai di pangkal hatimu, lelaki

telah kukurung murung
dan menjelma perempuan dewasa
namun nyeri rahim masih terasa
setiap kali khianat lewat

namun akan kujerat engkau selalu
sampai engkau tandas
menjadi sum-sum bagiku
buat pertumbuhan anak-anak
di pangkal rahimku

/edelweis, 2013



Rumah Ibu

ibu selalu menunggu
di rumahnya dengan cat
yang mulai suram
di sana, acap kusimpan
ingatan kanakku yang tak pernah tamat

lantai keramik yang mulai pudar
dan kamar bagi rindang tubuhku
selalu disimpannya
air mata puluhan tahun

bahkan ketika aku menjelma jadi ibu
bagi anak-anakku

/2013



Di Kota yang Lain

di kota yang lain, engkau hanya membeku. aku sibuk mencecap sudut yang mengerut. warna gedung. tubuh yang murung. bukankah ini sebuah tamasya? sementara engkau sibuk mengemas warna luka, bagi perih yang tak bisa dinamai. keasingan itu seperti pangkal hujan di bulan desember. merengut waktu yang lampau.

di kota yang lain, engkau menghapal nama-nama jalan yang baru. kuliner dari kota dan hari yang mendadak jadi batu.

/2013


--------------
Asrina Novianti, lahir di Lahat, 11 November 1980.  Alumnus Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Lampung (Unila). Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Usaha di Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila. Tulisannya tersebar di berbagai media.

    
Lampung Post, Minggu, 5 Januari 2013

Sunday, February 17, 2013

Sajak-sajak Asrina Novianti

Bulan Kesatu

semacam jarak
binar rumah
langkah hujan
yang tersasar
di jantung kota

tubuh lelah dalam basah
sesat yang terikat
setiap kali jalan tertumpuk

parade payung
terbuka murung
langit mendung
mencacah ganjil langkah

/jakarta 2013



Hening  Kafe

aku tertunduk
di bangku diam
sunyi yang lengang
dingin di bongkah mata

sayup lagu
tak mampu meregut
sunyi yang terpagut

getar lampu
seperti suara bayi
yang menangis
terkapar sendiri
bahkan saat lagu melingkar

redup tubuhmu
di kejauhan
menghampiri tubir malam

"ayo kita pulang,"
nampak lembut bibirmu
sungguh, aku rindu pada kecupanmu

/tangerang 2013



Sepasang Mata Ibu

sepasang mata ibu
menghampiri
setiap kulirik
cincin di jari

seperti ada yang terbuka
di lubuk
ingatan tentang remaja

mata itu,
berlompatan
semacam pengawas
di hari yang cemas

tak bisa kubangunkan lelakiku
juga anak-anak yang lelap
namun selalu ada sayup suara

"kau telah menjadi ibu,"
gaungnya merupa tenung

/tangerang 2013


Sajak
seperti ada yang sakit
di kepala
saat ia tak ada
meski kadang ia datang
seperti sebuah ilusi
dalam lamunan

semacam nyeri perempuan
saat datang bulan

/2013


--------------
Asrina Novianti, lahir di Lahat, 11 November 1980. Alumnus FISIP Universitas Lampung jurusan Komunikasi.Karya-karyanya dimuat di berbagai media dan beberapa  antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 17 Februari 2013