Showing posts with label Fitri Yani. Show all posts
Showing posts with label Fitri Yani. Show all posts

Sunday, December 14, 2014

Sajak-sajak Fitri Yani

Di Bangku Penumpang

saat langit membiarkan pintunya terbuka
dan fajar melangkah
dengan kaki-kaki yang rapuh
duduklah ia di bangku penumpang
roda-roda berderit di dadanya
ribuan kalimat susun-menyusun di matanya

langit memandang hampa
pohon-pohon memipih di ujung cakrawala
wajah seorang wanita melintas di kepalanya
wajah yang samar dan penuh memar
hingga ingatannya surut ke suatu sore
di lorong gelap
ke seorang lelaki yang mencuri suaranya
tepat tiga hari sebelum ia melihat warna awan
berubah merah
dan darah mengalir dari landai pahanya

kini di bangku penumpang
wajahnya lengang dan berkabut
lepas dari ikatan yang ia namai keluarga
lepas dari tangan-tangan yang membelai
sekaligus mencengkramnya

di bangku penumpang
dengan wajah penuh hujan
ia lafalkan nama-nama masa depan
yang kelak akan tumbuh di rahimnya.

(Tanjungkarang, Agustus 2014)



Kenali1

kami hamparkan bunga-bunga sekala2
dari hutan para moyang
kopi dan lada
rumah dan kebun kami kerap terbakar
tubuh anak-anak kami
dijadikan tumbal
dan pakaian wanita kami
dikoyak-koyak penyamun
kami menarikan tarian sekura3 senantiasa
bagai ulat di dalam buah nangka
bagai ludah merah penyirih tua
agar kalian menyaksikan dari jauh
rumah-rumah panggung
yang kehilangan tangga
ladang-ladang kopi
yang kehilangan tanahnya sendiri.

2014

1 Kenali: nama daerah di Lampung Barat
2 Sekala: tumbuhan hutan yang bunganya menjadi lambang mahkota pengantin perempuan
3 Sekura: pesta adat di bulan Syawal, saat orang-orang mengenakan topeng dari kayu atau kain


Cukuplah Asmara

bila bahumu matahari pukul delapan pagi
pinggangku rumah berkabut di pinggir hutan

bila dadamu badai laut cina selatan
tanganku angin hijau di atas rerumputan

bila punggungmu kota yang hampir mati
bibirku taman yang selalu ingin dikunjungi

bila bayangmu mercusuar malam hari
tubuhku cahaya kapal yang menari-nari

bila harapanmu rumah di ujung tanjung
rinduku bunga magnolia di samping jendela

bila kata-katamu sulur-sulur hujan
kalimatku pelangi yang pecah di atas bebatuan

bila setiamu kabut yang mengambang di danau
jiwaku cahaya yang berdiam dalam jiwamu

bila hasratmu lebur kedalam hasratku
maka asmara telah cukup untuk kita.

(September, 2014)


------------
Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Berkesenian di Komunitas Berkat Yakin, Lampung. Menulis puisi, prosa, dan naskah drama. Buku puisinya: Dermaga Tak Bernama (2010) dan Suluh (berbahasa Lampung, 2013).



Lampung Post, Minggu, 14 Desember 2014

Sunday, October 27, 2013

Sajak-sajak Fitri Yani

Raja Guntur Bumi Penihing1)

di lom janji, nyak rila nutuk niku
di uncukni bumi paling ngison
ngandanko kemuarian
tutukan anak-umpu jemoh saway

wat pak anakku laher di bahway:
Pesanggah Temunggung Gedung
Wisesa betungga Ratu Serambak
Dewa Marga
Karya
pisah tian kaduni mid sukau, krui, rik kalianda
Wisesa nguyunko kita di bahni pesagi
betungga Ratu Serambak
laher muneh umpu-umpu kita

kidang, tulung tanyako jama badanmu, ragahku
jama junjungan anak umpumu
lagi aga diingokko tian kudo
ragah rik bebai tuha
sai lapah jaoh ngusung isi kerajaan Banten
lagi aga mupakat kudo
sunyin keturunan jama keturunan Bahway

mani waktu sapa sai pandai
mutusko sunyin ingoan kak medomko mata

di lom janji
nyak rila nyerahko diri jama niku, raja pusaka
nyin nanti anak-umpu kita paham
api artini jadi tutukan
api artini nguyunko lamban.

2012

1) Raja Guntur Bumi Penihing yado de Raja sai berasal jak Banten, menurut cerita tumbai, sekitar tahun 1663, kerajaanni mid Liwa daleh ngebangun kerajaan di Bahway, salah satu keturunanni ya de Raja Wisesa, sai keramatni maseh wat sampai tanno. Jak keturunanni Raja Wisesa laher raja-raja sai sampai tanno wat di Kutaraja, Liwa.




Kemumu

sang degok way di unggak bulung
kemincak kedugok di bah pampang
kekati langui di pingger-pingger kulam
batu alom dibi manom

way di bulung kemumu
di bah sinar bulan bara
numpang liyu
kadu ya gugor di batu alom
mak dapok mesaka aga tigaga

kak rakakni radu jadi talos
kambang-kambang radu melayu
kemumu nganakko tunas baru

2013




Munggak-Medoh

kik niku halian
lapahanmu nutuk renglaya
sai jak bahni
medoh mid sabah-sabah
teliyu mid siring-siring
taru di lawok jaoh
munggak luot mid langik
kambor di hantara burung-burung
diurau-urau angin
mid rang sai mejaoh jak lawok
kaduni lebon gugor jadi wayni terai

kik niku terai
suratanmu gugor munggak-medoh
mak taru-taru, mak ngilu waktu
gugor di bulung lidang
jadi kambang di bebatan
ngeratongi bumi
nyinggahi rang-rang
sai senangong renglayamu

kik niku bebatan, garisanmu tilapahi
jak unggak jak doh, jak tumbai jak tanno
nerima tiilik-ilik, buserah tiratongi rik tilijungi
kekala wat sai tedaya, kekala wat sai pehalu

rua arah rua tawok rua uncuk
mid-muloh, radu-makung
debingi-derani, alom-andak
lawok rik langik, di hantarani
way-way ngehuap
gugor muneh di bebatan
luncat-luncat injuk kambang

2013


--------------
Fitri Yani, laher di Liwa, 28 Februari 1986. Pepira puisini timuat di lom media cetak rik antologi puisi. Pernah nutuk Pertemuan Penyair Nusantara V dan VI, Ubud Writers and Readers Festival (2011), Temu Sastrawan Indonesia IV (2011), Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antar-Bangsa Pangkor, Malaysia (2012). Buku kumpulan puisi bahasa Lampungni sai ampai aga terbit judulni Suluh.


Lampung Post, Minggu, 27 Oktober 2013

Sunday, July 28, 2013

Sajak-sajak Fitri Yani

Granula Rindu Suatu Malam

bulan separuh menggantung di langit kota
lelaki negro memandangnya begitu lama
ia merasakan dirinya lebur dalam gelap
persembunyian begitu terjaga
buah-buah malam berputar dan jatuh
berulang-ulang ia melafalkan sebuah doa:
semoga aku kembali

sebuah lagu pembebasan melintas di telinganya
cuaca di dalam dirinya berubah hangat
ia memejamkan mata
ada sentuhan yang masih dirasakannya
tangan lembut seorang teman dalam penjara

sepuluh meter dari tempatnya berdiri
beberapa pekerja pabrik melangkah gontai
tak ada tegur sapa di malam selarut itu
tak ada teman berbagi minuman
sepanjang hari yang berat

di ujung sebuah gang mereka menyebar
membentuk titik-titik hitam  di kejauhan
melintasi sebuah bahasa sederhana:
berilah kami rindu dan jalan untuk pulang

sebuah lagu selamat ulang tahun mengalun
dari sebuah kompleks perumahan
bulan separuh menggantung di balik awan
lelaki negro tertidur di seberang pasar swalayan.

Tanjungkarang, 21 Juli 2013




Potret Musim Panas

musim panas menjadi tua
pohon-pohon kurus, parau dan layu
para perempuan di rumah bordil
berdansa dan menyibak sepi
dari mata yang kering

pagi menghilang dalam rasa kantuk
matahari bersinar begitu lambat
burung-burung layang terbang
di atas atap-atap rumah bata
para lelaki penyendiri memasang wajah bahagia
berkicau-kicau tentang hujan di surga

embun berbulir di jaring laba-laba
lalu lesap tanpa tanda apa-apa
sementara di depan maut
potret cuaca akan tetap ada.

Juli, 2013



Catatan Seorang Aktor

bintang-bintang tidak dekat
langit kian melebarkan kekosongannya
seekor kucing tidur seperti patung
di kursi taman

kami akan latihan lagi
untuk sebuah pertunjukan drama
menghidupi gedung pertunjukan
yang kini seperti lelaki tua yang koma

dingin datang lapis demi lapis
baju hangat kami terasa semakin tipis
lembab seperti subuh hampir habis

kertas-kertas berserakan di lantai putih
nafas kami berpacu
seperti jalinan pertanyaan dan jawaban
kalimat-kalimat mengambang
dibacakan berulang-ulang

kami ingin membentuk sebuah dunia
hidup dan mati di dalamnya
agar perut-perut kosong kami
berjarak dengan kenyataan
agar suara-suara di kepala kami
selaras dengan keyakinan

teriakan-teriakan tak terdengar
di telinga yang pura-pura sibuk
membangun dialognya sendiri
kalimat-kalimat kosong
yang mereka namai meditasi

lampu-lampu menyala
udara di luar bertiup dingin
baju hangat terasa semakin tipis
percakapan-percakapan kami
mengendap di dingin bulan Juli.


21 Juli 2013


Insomnia
malam hanya sepotong kertas karbon
hitam ditembusi cahaya
lubang demi lubang seperti lentera
di balik tirai

di bawah mata bintang dan bulan
mataku tak bisa terpejam
terjaga dari segala arah
gambar-gambar berjalinan dalam sebuah peristiwa
berulang-ulang
seperti sebuah adegan film picisan
merekat dalam bingkai ingatan

kenangan saling berdesakan
di wajah dinding muram
masa depan bermunculan
sebagai gambar yang ragu

aku kebal pada semua jenis obat tidur
kebosanan kian menyala berlarut-larut
setiap gerakan seakan melarikan diri
dari ruang satu menuju ruang lain

sepanjang malam
terdengar gesekan biola dari tetangga
merayap dengan kicauan nada menyedihkan

semua orang terjaga dan lampu-lampu menyala
semua orang bekerja dalam pengulangan belaka
menaik-turunkan celana memilih-milih busana
orang-orang bermata rabun dan kosong
mengganti topeng seakan waktu selalu menipu

di kamar ini aku seakan ingin dicuci otak.

Juli, 2013


-----------
Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP Universitas Lampung. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak dan antologi. Diundang pada Pertemuan Penyair Nusantara V dan VI, Ubud Writers and Readers Festival (2011), Temu Sastrawan Indonesia IV (2011), dan Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antar Bangsa Pangkor, Malaysia (2012). Buku puisinya Dermaga Tak Bernama (2010).


Lampung Post, Minggu, 28 Juli 2013

Sunday, April 21, 2013

Sajak-sajak Fitri Yani

Tentang Hari Depan, Cintaku

tentang hari depan, cintaku
tentang benih yang akan tumbuh esok hari;
bunga-bunga putih di balik kabut
rumah di tepi pegunungan
daun-daun jambu berluruhan pada tanah lembab

tetapi jalan ini memang suram, cintaku
tak ada yang berani menempuhnya dalam lapar
iman kita digoyahkan oleh kesunyian yang kita tempa sendiri
jiwa-jiwa meronta pada cinta yang sementara
ada yang tetap ingin bersama
karena tak berdaya melangkah seorang diri
lalu akhirnya memilih pergi karena lapar

jalanan ini tak bisa memuaskan dahagamu akan kemegahan
tanah gersang, sumur kerontang
daun-daun gugur dan berserakan
orang-orang yang bertahan dalam kepayahan

kita menjadi mahluk yang berharap sekaligus putus asa
seperti iringan awan yang terapung di bukit kapur
peluh luruh dalam gelas-gelas suka-cita
bening dan begitu memabukkan

di masa mendatang, cintaku
kita akan mengalami sebuah pagi
dan melihat wajah pegunungan.

Tanjungkarang, Februari 2013



Solilokui

entah sejak kapan kau gugup menghadapi kenyataan
pagi yang kaku menindih tubuhmu
di sela-sela jadwal keberangkatan
yang tak pernah berbeda, tak pernah berubah

teman dan kekasih memudar di ujung cakrawala
seperti pekarangan yang sendiri pukul sembilan pagi
tak ada lagi bagimu ruang untuk mengingat masa silam
dan tempat-tempat yang sudah kau tinggalkan

kau hirup cerita-cerita seperti menghisap debu
tubuhmu kumpulan debu
matamu guguran rindu yang layu
di beranda rumahmu

siang hari memanas di ubun-ubun
keramaian berpendar di kepalamu
yang terus menerus mendambakan keheningan

malam tergesa datang
kau menarik nafas berat di tempat tidur
dengan cucuran peluh dan mimpi buruk
dadamu dihinggapi kecemasan-kecemasan
seperti kabut pada rumput di kaki pegunungan

hidupmu disibukkan oleh benda-benda
yang setiap saat berganti rupa
keheningan cuma hujan
cuma genangan yang cepat lesap

Maret, 2013



Gerbang Malam

langit menggugurkan daun-daun hujan yang tajam
mozaik-mozaik kota tersusun
di sebuah lorong panjang

burung-burung hitam melintas di atas kota
orang-orang berjalan memasuki gerbang malam
mencari jejak-jejak musim dan cuaca
sebelum pintu-pintu fajar terbuka

bersama cerita para saudagar
dan lampu kuning kenanga
aku berjalan melintasi mereka
melewati sapaan-sapaan pedagang cina
mencium aroma masakan melayu
memandang lukisan kota yang berwarna biru

di bawah cahaya lampu
kau menengadah
betapa lega setelah upacara, katamu
sambil mengenang sisa-sisa gemuruh pantai
dan potret matahari tenggelam

bayangan pohon memanjang 

bermacam bentuk bunga kau lukis
di punggung tanganku
adakah getar yang singgah ketika cahaya samar
menimpa wajah kita di tepi jalan itu

lampu-lampu mulai padam
kau bergegas pulang ke rumah
dan aku terdiam memandang purnama
malam gugur dan aku merasa akan terpisah dari semuanya

“demikianlah pertemuan
ia hidup di dalam peristiwa, di dalam foto dan benda-benda”.

Perak-Malaysia, 17 Desember 2012



Penyair dan Gembala

angin bergerak menghampiri gembala yang membaca sajak-sajak sepi di sepanjang halaman hari. ia melihat warna hijau di situ tapi bukan hamparan padang rumput yang sehari-hari dipandangnya. ia mendengar suara-suara merdu tapi bukan suara kambing-kambing gembalaannya. ia tak dapat memastikan apakah matanya dapat meyakini setiap warna yang dipandangnya selalu berbeda itu

bertahun-tahun sebelum sajak-sajak itu ada, seorang perempuan muda patah hati berlari di hamparan padang rumput, ratusan mawar luruh dari matanya. tubuhnya mengusung waktu dan wasiat yang sayang sekali tak pernah bisa ia ingat kembali, telinganya dilingkupi bahasa yang asing belaka. di bawah rimbun akasia ia mematut diri “kemarau menghancurkan setiap orang, kemudian beberapa orang bertahan di tanah yang terluka”ia menghirup kata-kata yang kekal, dan menduga ia pun akan kekal setelahnya

sang gembala menutup buku lalu berdiam diri, molekul-molekul udara dari padang rumput itu menyebar ke segala arah kemudian berakhir begitu saja di udara

aroma masakan rumah, derak ranting patah, dan bayang-bayang pohon sepanjang jalan mulai memukau baginya.

Maret, 2013


------------
Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP Universitas Lampung. Diundang pada Pertemuan Penyair Nusantara V dan VI, Ubud Writers and Readers Festival (2011), Temu Sastrawan Indonesia IV (2011), dan Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antar Bangsa Pangkor, Malaysia (2012). Buku puisinya, Dermaga Tak Bernama (2010). Sajak-sajaknya yang lain dimuat di berbagai media cetak dan antologi bersama.


Lampung Post, Minggu, 21 April 2013







Sunday, December 30, 2012

Sajak-sajak Fitri Yani

Sekala

kisahni kambang
sai wat di cerita-cerita ulun tumbai
cerita sai tuoh di lamban-lamban tuha
:batang sekala
sai nandok
di sigor-sigor kebayan

tuoh di pullan tuha
di hantara batang-batang balak
di pingger-pingger halian
kambangni mekar

debingi derani
tuoh tenggalan
di lom musim
sai buganti-ganti

sapa sai ngehaluni
sai lapah nengah bara
di lom pullan
injuk ngeliak mahkota
sai nyenangko hati
mak ngedok niat
aga matohko kambangni
jak batang
nyin ya tuoh
di sigor-sigorni
kebayan.


2012


Imbun Semawas

imbun nandok di bulungni kekambang, lunap nyimpok ranglaya. sunyinni aga lebon, ingkah jadi ingoan semakung pedom. injuk lamban paser sai tisani di pinggir laok dibi nambi. niku mawek pandai lagi jama sapa ngedadah ko culuk. lamban sai selalu tiratongi di lom hanipi setemonni temon nyata, sangon rakakni, lamban panggungni, rik kambang sai tuoh di tengebahni mawek sehelau sai di lom angangonmu. kidang renglaya lunik rangni sanak kekucak sai dipingger-pinggerni dituohi tanoman handak jelas nebong mid lamban lunik, rangmu selalu ngulangko hanipi. kambang-kambangni kupi sai begugorang rik tanoman-tanoman kol warna biru timpuk di sejaoh mata ngeliak. injuk nunggu kundang sai induh sakani lapah di kota lain. rakak-rakak rik bebukitan halok jaoh jak kemilau laok. kidang halian rilau sai ngelihi injuk kebayan wewah pudak sai ngehili mid hilirni.

sapa sai dapok ngeniko kahut mid uluh sai mak pasti, injuk kekambang, darak pari, rik tihang-tihang sai cadang kena terai. api sai setemonni titunggu waktu bulan bara, waktu niku nyenop jak sekapan sai tebukak cutik. api sai setemonni ditunggu? injuk nunggu wat sai nyaka’i jan. kidang ingkah didengi bunyi jantungmu tenggalan sai kengisonan. bebingi-bingi niku mak pedom, nunggu imbun semawas.

di lom pullan gugor di bebuahan rik bebulungan, wat sai gugor muneh di unggak hatok, ya lain terai. di jukuk-jukuk selanggar tuot, di kekambang sai selalu diratongi alibambang, imbun gogor pelejohan.

Niku senangon terok pandai warnani imbun sai temon rik utuh unggal semawas, kidang niku muneh aga lupa jama matani rani sai ngenini cahaya. Induh kapan niku temon-temon yakin bahwa hanipi tentang rengkaya lunik, lamban-lamban panggung, kekambangni kupi radu ngesai di lom kenangan, sai radu pasti aga dikeni imbun jak matamu.

2012


Penerai

burung kenui kambor di langik kelom
lima menit sai radu terai kedok jak pagi
way ngegenang di ranglaya
sanak lunik kekucak nyepok iwa tanyut

bulung-bulung basoh
kambang-kambang basoh

way ngehali di pemetung
pari-pari kehujauan
pematang disimpok lunap

selain terai, dibi saiya
wat muneh sai ratong
benang-benang cahaya jak langik
langik sekecah way nohan

di renglaya sedi
kita betungga di tengah terai
maka sunyinni cerita bermula
injuk kulam-kulam sai gugori cahaya
injuk kambangni jambu suluh
begugoran di tengebah.

2012


Labuhan lain


umbak pecoh di karang
pecoh angangonku ngingokko niku
injuk langui di laok kerui
induh dipa rangku pehalu jukung

cawamu injuk torni memis madu
kidang nyak tepik duli diya
ngebabang hati cadang
tekebang maya di langik jaoh
labuhan kapalmu lain sai

2012

--------
Fitri Yani, laher di Liwa, Lampung Barat, 28 Februari 1986. Tinggal di Bandar Lampung. Alumnus FKIP Universitas Lampung. Buku puisini, Dermaga Tak Bernama (2010). Sajak-sajakni sai bareh tekuruk di media cetak dan antologi jejama.


Lampung Post, Minggu, 30 Desember 2012