Showing posts with label Riza Multazam Luthfy. Show all posts
Showing posts with label Riza Multazam Luthfy. Show all posts

Sunday, August 3, 2014

Sajak-sajak Riza Multazam Luthfy

Macam Kaktus, tapi Bukan
Gerimis gundul tiba-tiba datang serupa iblis bermata garang. Ia dengan bengis menginjak-injak pohon rindu yang baru dua tahun kutanam. Di ladang perasaan. Di kebun mimpi yang hijau dan rindang.

Seperti juga kuda pasukan Sparta kala menyerbu Kampung Laconia, gerimis itu begitu beringasnya. Sampai-sampai tiada mampu ia bedakan mana kaki-kakinya yang mengancam. Mana pula tumbuhan yang hendak diluluhlantakkan. Sampai-sampai pohon kecilku tumbang. Akarnya berserakan, melebur dengan muka tanah yang bulat panjang. Daun yang semestinya berkorban demi lambung ulat, berceceran tanpa secuil pun mengais manfaat.

Padahal, seperti pesan Eyang, pohon satu ini tampak kurang tertarik dengan segala jenis cairan. Ia macam kaktus, tapi bukan. Ia sangat benci jika suatu hari seekor makhluk sengaja melumeri punggungnya. Atau kepalanya. Atau lehernya. Atau anggota tubuh yang jamak disebut daun dan dahan, tapi ia lebih suka menyebut kaki dan tangan.

Maka, gerimis bedebah! Ketahuilah, bahwa aku memberinya minum bukan dengan cara sembarang. Berbulan-bulan sebelumnya aku mengambil segayung air dari Sungai Nil untuk kemudian kutitipkan pada tanaman-tanaman rambat di sekitarnya. Merekalah yang kumintai bantuan untuk memasukkan setetes demi setetes ke mulutnya, ketika sudah benar-benar mendengkur.

Pohon kesayanganku memang pemalu. Makanya, jangan heran jikalau ia memilih bermukim di lahan yang subur. Dengan begitu, ia bisa terus mengalirkan napas tanpa terlihat sibuk mencari cairan. Ia pura-pura menyapa tetangga, berjabat tangan, lantas mengusapkan jemarinya yang basah—karena bersentuhan dengan tanaman lain—ke sekujur badan. Ia belum mengerti bahwa aku, pemiliknya, telah turut serta menyelundupkan larutan yang sangat diperlukan dalam hidupnya. 

Ah, sudahlah. Kau, gerimis! Kau boleh tertawa sesuka perutmu, sebab menerka bahwa sebentar lagi aku terlunta-lunta. Menderita atas gugurnya pohon kiriman perempuan yang amat kupuja. Ya, kupuja lantaran ia tak menaruh rasa sama sekali, tapi aku sungguh mencintainya.

Terima kasih, pohon rindu. Pohon yang memutuskan mati ketimbang memanggul malu. Pohon yang pernah mengantar hatiku mekar, meski aroma senyumku makin tawar.

Yogyakarta, 2012


 
Kasihan!

Setiap aku mengangon kata, setiap itu pula tetanggaku ikut bergabung. Namanya Dirman. Ia dipanggil Kasihan.

Benar. Orang-orang menyebutnya demikian, dikarenakan memang ia pantas dikasihani. Bayangkan! Dirman terlahir dari rongga kemaluan babi betina yang ditemukan Pak Joko waktu berburu di hutan. Mata satu. Telinga satu. Bokong tiga. Anunya sepertiga.

Oh, pasti kalian benar-benar kasihan kalau mengetahui sejak balita Dirman tak bisa mengucap apa-apa. Ia cuma menitihkan air mata jika menghendaki sesuatu. Air mata yang tersendat-sendat, karena diperas dari satu mata; lubang yang begitu mungil ukurannya. Sayang sekali, Pak Joko sulit memantau mana Dirman yang berduka, mana Dirman yang bersuka, karena antara kesedihan dan kegembiraan telanjur tiada sekat. Berkelindan. Bertukar tampang. Mengembar siam. Siam yang mustahil dibedakan.

Sejak umur tujuh tahun aku rajin mengajak Dirman mengangon kata. Dengan bersamanya, aku sering mengumpulkan air matanya yang berbau keemasan. Air mata yang mengingatkanku pada kakek yang menggerung-gerung sesaat sebelum menjemput maut. Pada pipi ibu yang basah kuyup, menyesali kenapa dulu mau dikawini ayah, yang penyair. Penyair yang gemar mengobral tanduk puisi di halaman koran. Yang bersedia dibayar recehan, namun akhirnya harus mendengkur di bui paling kejam.

Meskipun sesenggukan, aku mengerti bahwa menangisnya Dirman menunjukkan kegembiraan. Hal itu tampak ketika suatu hari ia mengaku bermimpi bertemu kuda telanjang. Ia tidak menangis lantaran kelopak matanya terpejam. Anehnya, dari kemaluannya bercucuran air mata keruh, kental, gurih, menggiurkan. Dan, sejak balig itulah Dirman kerap merajukku untuk bersama-sama mengangon kata, walau ketika aku menyanggupi, ia malah menangis. Tangis yang pura-pura. Tangis yang sebetulnya adalah tawa.

Tapi, sejak ia berusia dua puluh tahunan, aku mulai resah dan menjauh dari Dirman. Pasalnya, semua puisi yang kupelihara selama ini ternyata tertular derita Dirman: bermata satu, bertelinga satu, berbokong tiga, beranu sepertiga. “Ah, kasihan!”

Yogyakarta, 2012

Keterangan: puisi ini terinspirasi dari puisi Mardi Luhung berjudul Sungai Kembar.


-----------
Riza Multazam Luthfy, Pendiri dan kontributor komunitas Sastra Minggu. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media dan antologi.

 

Lampung Post, Minggu, 3 Agustus 2014

Sunday, August 18, 2013

Sajak-Sajak Riza Multazam Luthfy

Gergaji

mata lengkung perut gunung
sayat kemaluan hingga apung

punggung pipih lidah nyermimih
lahap keberanian berderap lirih

dari rangka ini
kalian mafhum sudi
mana harga diri
mana waktu akut
menjaring selusin maut

Yogyakarta, 2013


Piring

tidak selamanya gebok nikmat
menyumpal lambung paling rentan
takkan selalu garam, cabai, tomat
menggiring riuh gaduh meja makan

sesekali perlu kami iris-iris usus kalian
ujung jantung kami luluhlantakkan

santet negeri seberang
sihir bebuyut para danyang
siap melesat penuh garang

Yogyakarta, 2013


Garpu

ke arah liat betis kami
lapar mereka tekun mengintai

pada ulet jari-jari kami
menggantung ribu payung mimpi

padahal di sekeranjang malam
di segantang remang
akan kami saji-hidangkan
duri lembut pagut kelezatan
ke relung paling tenggorokan

jika nyawa tertelan regang
oh, maafkan, maafkan
kami hanyalah mambang
terusir dari lembah keinsafan

Yogyakarta, 2013


Gelas

silakan rendam dengan air
kaki hingga leherku
yang hidmat kikir

moga racun kerontang menyusut
terurai lambung cacing perut
supaya subur senantiasa tumbuh
berkecambah di liang tubuh

tapi, butuhlah waspada
pada gerhana berbiji celaka
cuil kaca bersigap melumat
tiap mulut yang menganga

Yogyakarta, 2013


---------
Riza Multazam Luthfy, sastrawan, cerpennya tergabung dalam antologi Negeri Sejuta Fantasi (2012). Ia adalah ahlul ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Sedang melanjutkan studi di program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.


Lampung Post, Minggu, 18 Agustus 2013