Showing posts with label Mohamad Baihaqi Alkawy. Show all posts
Showing posts with label Mohamad Baihaqi Alkawy. Show all posts

Sunday, September 7, 2014

Sajak-sajak Mohamad Baihaqi Alkawy

Ladang yang Hilang

pandang ladang tepi kandang halaman belakang rumah tetangga
hanya bayang tomat tergantung dengan ranting melengkung
pada tanah yang tesenyum subur.

hari ini sudah ribut, kendaraan lalu lalang menggetarkan kenangan
para pejalan subuh yang tak sabar ingin melihat tanaman
kadang kami saling sapa atau sekedar bertanya ingin ke mana

tapi ladang sudah megah, udara begitu kotor, orang-orang bertanya
tentang saudaranya yang tiba-tiba amnesia.
dengan suara yang berbeda, tak saling mengenal dan tak dikenal

ladang pergi tak jelas siapa yang memiliki
orang-orang lalu lalang ingin menuju masa depan;
yang entah kelam atau cemerlang

sementara aku masih tergetar oleh ingatan
perihal batang padi yang merunduk sunyi

2014


Lembap Bacaan

aku buka buku lembap
lembar-lembarnya menyimpan aksara hujan
sementara paragraf awal melayang bimbang

kalimatnya tercium seperti aroma udara
pada desa yang telah aku lupakan namanya;
sebuah pemukiman yang dipenuhi pecah gerabah
di tanah lapang-selapang dada yang sabar

ingatan yang tumbuh seperti kuku
memanjang dan semakin tajam
setelah sebuah bacaan melabuhkan tubuh;
sedingin lembar buku berkutu, semanis kuku berpacar ungu.

2014


Peristiwa Pagi


sebuah mimpi teringat di penghujung mandi
tentang seorang tukang kayu yang ingin menyelesaikan
sebuah meja makan di siang hari yang lapar

ia menyalak kencang, menggigil ke arah kekalahan
sementara anak-anaknya hanya bekerja membersihkan jendela kamar
mereka hafal dari mana angin datang dan ke mana dingin pulang
apakah ke kampung asal atau ke rumah pelarian

mimpi itu ramah semisal tuan rumah
mempersilakan tamunya duduk di tempat terbuka
seperti halaman rumah sebuah desa

ada tetangga lewat dengan segan
mengucapkan sebait kalimat gemetar
bersama gelagat tubuh yang malu-malu berlalu

seperti sisa mimpi yang teringat di penghujung mandi
dan kebimbangan pada handuk bergambar penginang

2014


Puisi di Atas Meja Kerja


semut, tikus, kecoa, cicak, nyamuk, lalat
dalam kamar yang sesak oleh bait-bait
kemuraman seorang di atas meja kerja
di sana, setiap benda adalah penyesalan
dan ingatan yang mudah terlupakan

tikuslah yang mengisyaratkan bahwa waktu telah malam
sementara nyamuk berkeliaran tenang
cicak semisal air terjun menyegarkan pandangan
saat dingin huruf dalam buku membekukan tubuhku

kecoa meloncat setelah melihat gelap menyusup lembut
pandangannya mengarah ke sebuah lemari
isinya berjejal kalimat yang menjelaskan puisi

sementara lalat mengabarkan sejauh waktu
tubuh ini belum dibasahi air
ia tak tahu puisi telah mengalirkan air matanya ke lekuk tubuh
seorang pria dengan dada yang berdansa di atas meja kerja

2014


--------------------------
Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 9 Mei 1991. Masih studi di Fakultas Tarbiah IAIN Mataram. Bergiat di Komunitas Nafas dan berproses di Komunitas Akarpohon, Mataram. Bukunya berjudul Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014).


Lampung Post, Minggu, 7 September 2014
                                                                     

Sunday, October 13, 2013

Sajak-sajak Mohamad Baihaqi Alkawy

Surat Lalat
tubuhku jengat, mengisap sari-sari segala yang busuk
semisal bangkai ucapanmu

kibaskan tanganmu, maka aku akan terbang ke arah
tak dikenal. sebab aku paling lihai berkelit atas setiap jebakan
maupun umpatan yang sejatinya telah tercium dari jauh.

apakah kau murka bilamana ujung lidahku menggerayangi
kesibukanmu menjalankan rencana.
sebab kesibukanmu adalah kebusukan bagiku.

tunggulah sayapku akan terpanggil oleh angin ke arah
segala yang lamat-lamat. 

tapi kau terlampau tak percaya bahwa keruh tubuh yang selalu
tumbuh melepuh adalah muasal dari yang terasa. tak nyata.

begitu pula halnya tubuh yang legam ini memintamu sejenak
kembali pada diri.

2013



Ahad
hari ini bukan suasana jumat, melainkan ahad
sebab tak ada aroma tuhan merasuk ke ujung hidung
hanya saja terpatri si buah hati menari di ujung jari.

di pancuran, sepagi ini rambutmu basah-merekah
menenangkan desir air jatuh di wadah berukuran dua kulah
yang hanya membasahi tubuhmu saja. tubuh tenang hari ahad
menutup sederet nama tuhan di gelombang dada yang gemetar
menyebut si buah hati berulang-ulang, melebihi getar alunan
nama Tuhan di setiap hari-hariku sayang.

air biru telah membasuh hijau matamu di depanku
gemericik aliran air seperti zikir para pertapa menunggu
wangsit dari langit.

hari ini, sekali lagi bukanlah jumat, melainkan ahad.
dan segalanya tumpah bersama namamu yang
kudaras setelah salat.

2013



Pendaki


sematkanlah sifat binatang jika kau menemukanku telentang
membayangkan keinginan di puncak keresahan, tersulam oleh
beberapa lembar kabar bahwa kita telah mengkhatam abjad
bintang dan segala yang kita temukan di antara butir perasangka
kacang ketika ia memendam biji dalam cangkang.

atau bilamana kau menemukanku memangu ke arah masa lalu
ke setiap simpang yang semakin merenggang tak sepurwarupa
namun apatah aku ini jika kesekian kalinya kau temukanku patah
dan latah menimbang bimbang yang terlampau datang,
barangkali hanya sekedar lewat untuk meyakinkan keinginan
yang tak berketetapan dan melekat kiamat. jadi pernak
berhias diri supaya tampil percaya diri.

sematkanlah aku sifat binatang bilamana kau menemukanku pergi,
tapi bukan sebagai pendaki lagi.

2013 



-------------
Mohamad Baihaqi Alkawy, lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 9 Mei 1991. Menulis puisi dan artikel di berbagai media dan antologi bersama. Bukunya, Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (dalam proses terbit).


Lampung Post, Minggu, 13 Oktober 2013