Sunday, July 28, 2013

Sajak-sajak Fitri Yani

Granula Rindu Suatu Malam

bulan separuh menggantung di langit kota
lelaki negro memandangnya begitu lama
ia merasakan dirinya lebur dalam gelap
persembunyian begitu terjaga
buah-buah malam berputar dan jatuh
berulang-ulang ia melafalkan sebuah doa:
semoga aku kembali

sebuah lagu pembebasan melintas di telinganya
cuaca di dalam dirinya berubah hangat
ia memejamkan mata
ada sentuhan yang masih dirasakannya
tangan lembut seorang teman dalam penjara

sepuluh meter dari tempatnya berdiri
beberapa pekerja pabrik melangkah gontai
tak ada tegur sapa di malam selarut itu
tak ada teman berbagi minuman
sepanjang hari yang berat

di ujung sebuah gang mereka menyebar
membentuk titik-titik hitam  di kejauhan
melintasi sebuah bahasa sederhana:
berilah kami rindu dan jalan untuk pulang

sebuah lagu selamat ulang tahun mengalun
dari sebuah kompleks perumahan
bulan separuh menggantung di balik awan
lelaki negro tertidur di seberang pasar swalayan.

Tanjungkarang, 21 Juli 2013




Potret Musim Panas

musim panas menjadi tua
pohon-pohon kurus, parau dan layu
para perempuan di rumah bordil
berdansa dan menyibak sepi
dari mata yang kering

pagi menghilang dalam rasa kantuk
matahari bersinar begitu lambat
burung-burung layang terbang
di atas atap-atap rumah bata
para lelaki penyendiri memasang wajah bahagia
berkicau-kicau tentang hujan di surga

embun berbulir di jaring laba-laba
lalu lesap tanpa tanda apa-apa
sementara di depan maut
potret cuaca akan tetap ada.

Juli, 2013



Catatan Seorang Aktor

bintang-bintang tidak dekat
langit kian melebarkan kekosongannya
seekor kucing tidur seperti patung
di kursi taman

kami akan latihan lagi
untuk sebuah pertunjukan drama
menghidupi gedung pertunjukan
yang kini seperti lelaki tua yang koma

dingin datang lapis demi lapis
baju hangat kami terasa semakin tipis
lembab seperti subuh hampir habis

kertas-kertas berserakan di lantai putih
nafas kami berpacu
seperti jalinan pertanyaan dan jawaban
kalimat-kalimat mengambang
dibacakan berulang-ulang

kami ingin membentuk sebuah dunia
hidup dan mati di dalamnya
agar perut-perut kosong kami
berjarak dengan kenyataan
agar suara-suara di kepala kami
selaras dengan keyakinan

teriakan-teriakan tak terdengar
di telinga yang pura-pura sibuk
membangun dialognya sendiri
kalimat-kalimat kosong
yang mereka namai meditasi

lampu-lampu menyala
udara di luar bertiup dingin
baju hangat terasa semakin tipis
percakapan-percakapan kami
mengendap di dingin bulan Juli.


21 Juli 2013


Insomnia
malam hanya sepotong kertas karbon
hitam ditembusi cahaya
lubang demi lubang seperti lentera
di balik tirai

di bawah mata bintang dan bulan
mataku tak bisa terpejam
terjaga dari segala arah
gambar-gambar berjalinan dalam sebuah peristiwa
berulang-ulang
seperti sebuah adegan film picisan
merekat dalam bingkai ingatan

kenangan saling berdesakan
di wajah dinding muram
masa depan bermunculan
sebagai gambar yang ragu

aku kebal pada semua jenis obat tidur
kebosanan kian menyala berlarut-larut
setiap gerakan seakan melarikan diri
dari ruang satu menuju ruang lain

sepanjang malam
terdengar gesekan biola dari tetangga
merayap dengan kicauan nada menyedihkan

semua orang terjaga dan lampu-lampu menyala
semua orang bekerja dalam pengulangan belaka
menaik-turunkan celana memilih-milih busana
orang-orang bermata rabun dan kosong
mengganti topeng seakan waktu selalu menipu

di kamar ini aku seakan ingin dicuci otak.

Juli, 2013


-----------
Fitri Yani, lahir 28 Februari 1986. Alumnus FKIP Universitas Lampung. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media cetak dan antologi. Diundang pada Pertemuan Penyair Nusantara V dan VI, Ubud Writers and Readers Festival (2011), Temu Sastrawan Indonesia IV (2011), dan Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antar Bangsa Pangkor, Malaysia (2012). Buku puisinya Dermaga Tak Bernama (2010).


Lampung Post, Minggu, 28 Juli 2013

Sunday, July 21, 2013

Sajak-sajak Abdul Wachid B.S.

Menjelang Subuh Itu
- Ustad Jefri al-Buchori


terakhir dia tersujud mencium akar
terhadir dia kembali kepada sumber
tidak lagi dari sumur dia bersuci
tetapi menapaki pelangi dia mendaki

pada akhirnya
di akar kelapa itu
kembali ke dalam tanah
berumah di dalam tanah

sampai mengerti arti lemah
justru dia melangkahi tangga-
tangga dunia dengan gagah
menuju khotbah sejatinya

Jumat, 26 April 2013


Bertandang Ke Kali Bening
     Banyumas lama
Aku terkagum dengan tanah yang meninggi
Tempat bersemayam Pendeta Dorna
Tetapi justru itu Syekh ar-Rumi bersemedi
Sehingga batu-batu mengucurkan mata air cinta

Mengalirlah menjadi Kali Bening
Betapa bahwa orang-orang yang suka bertapa itu
Terkesima menyaksikanmu tanpa ragu
Bertapa pula di pertapaan Sang Dorna yang

Manusia datang manusia mati
Tetapi bagi Batu Kiblatmu semua arah berserah
Manusia datang manusia mati
Hanyalah menjawab tanya gelisah

Sujudkanlah di Batu Pasujudan itu
Seperti Sunan Giri dan Sunan Kalijaga yang
Juga mendoakanmu setelah sujud-sujudmu yang lalu
Seperti orang-orang yang meniru lelaku, sayang

Tidak sampai kepada arti apalagi makna cinta
Belum lagi aku merasai kehadiran
Tersengat hidungku oleh bauan dupa
Terkaget aku oleh doa-doa yang bercampur Jawa

Dan ketika kuturuti tangga-tangga
Ada cahaya api seperti dilemparkan dari udara
Dan aku tahu ada senjata bermata dua
Satu memberi terang kemana kiblat berhikmat doa

Satunya semoga tidak menjadi senjata makan tuan!
Amin.

Purwokerto, 17 Oktober 2011



Seorang Anak Terlahir dari Rahim Doa
seorang anak terlahir dari rahim doa
matanya satu pejam yang lain membuka
tanpa tangis ketika terbuka mata dunia
lidah kelu sepertinya tidak akan menjadi kata

seorang anak terlahir dari rahim doa
kakeknya menggosok lidahnya dengan
cincin mantra, di setiap adzan menggema
disentuhlah kedua matanya, disalaminya

marhaban bi habibiy
wa qurati 'ainiy
Muhammadan ‘abduhuu
wa rasuluhu

maka, perlahan-lahan dunia membuka
lahan-lahan yang semula tidak sedia kata
pelan-pelan tumbuhlah bahasa
menjadi puisi tanah-tanah mendaki hingga

rumah cahaya

apalah yang dicongkak dengan dagu mendongak
bila bahasa dan pandang mata menegak
semata-mata karena dinafasi oleh doa
sehingga di dalam mimpi dia terbang tinggi, dunia

bisa dipandang ke mana arah
hendak dikepakkan sayap-sayap yang
turun naiknya ketinggian sampai berserah
jarak mampu dilipat hanya dengan, Hyang

di dalam hati ada energi yang
tidak henti-henti memompa menjadi gema
menjadi sampai, kepada tanah kehidupan yang
nyata lebih baik dari hari kemarin

amiin

Yogyakarta, 26 juni 2013


------------
Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.


Lampung Post, Minggu, 21 Juli 2013

Sunday, July 14, 2013

Sajak-sajak F. Moses

Beringharjo*

aku menunggumu di pasar Beringharjo
bersama nostalgia tak lekang
masih kuingat dan kukenang
dalam sehisap kretek tepat di pelipiran "bangjo"

penyair gelisah
sejumlah orang bercakap tentang kemahsyuran dan penyinyiran sebuah kota
musisi jalanan yang belum malas beraksi
juga beberapa pasang kekasih muda yang merencanakan gaun pengantin dan bertukar buku  dan kaset lama

aku menunggumu di Beringharjo
berkhayal dirimu menggenggam sejumput cerita tentang kabut kaliurang dan
pendaman magma kesetiaan merapi

aku menunggumu di Beringharjo
kelak kita jimpit dan menyimpannya rapi-tepat  di saku ingatan

aku menunggumu di Beringharjo
tepat di bawah awan putih berlangit biru
"Langit seperti permukaan agar-agar," kelak kubilang padamu

aku menunggumu di Beringharjo
sebentar kita memilih atau sekadar melihat pakaian serta beberapa pernik
untuk membuat makin malas berpulang

*)Pasar tua di Yogyakarta sejak tahun 1758

                                                      Yogya 210413


Di Sebuah Bordes

akhirnya kita pun menunggu sinyal kedatangan kereta Bogowonto
"rencana besok kita tiba di suatu kota, di mana ingatan bersiap mengoyak-merajam kenangan penuh seluruh," katamu

Harusnya kau di sampingku, bersaksi bagi  derit dan sinyal yang terus memusar-melaju derap  waktu
"Kelak kita tak akan pernah mampu melupakan perjalanan ini," tambahmu lagi, "dan kelak bila kerinduan memanggil, kita pun makin memahami tentang kesembuhan dari menanggung sebuah kenangan

dan kita pun tahu, segala tempuh kita bersama, selagi kau di sampingku; segala ngarai
pun tubir, bukanlah labirin perjalanan ini.Kecuali ingatan, ia adalah kita yang tak akan pernah sanggup untuk saling melupakan

                                                    Jakarta-Yogya, 190413



Jelma

segala puisi bagi kemuliaan
sebagaimana kau dan aku pernah tahu
: kita adalah puisi yang menjadi daging
segala frasa di benakmu
ialah kalimat menjelmaku
: “puisi gembira memang obat paling mujarab
tapi semangat patah mengeringkan tulang                                                      
                                    Bandung, 2013



Hujan di Teras Rumahmu

turun kata-katamu rintik-rintik
kamu bilang titik
aku bilang koma
orang tuamu tanda seru
hati kita tanda kutip
tanpa pernah titik dua
    di luar masih tanda tanya
semoga hujan mendinginkan iman puitika kita
amin
                                    Bandung 2013


------
F. Moses, kelahiran Jakarta, 8 Februari 1979. Menulis puisi dan cerpen. Kadang bikin penelitian sastra. Sedang menyelesaikan cerita anak “Karma Si Gunam”, adaptasi Kutai-Tenggarong untuk diterbitkan. Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. Di antara dua kota: Lampung dan Jakarta.


Lampung Post, Minggu, 14 Juli 2013

Sunday, July 7, 2013

Sajak-sajak Tarpin A. Nasri

Sepagi Ini Sudah Diguyur Hujan

Sepagi ini Bumi Centralpertiwi Bahari sudah diguyur hujan
Kakinya yang runcing-tajam menimbris-nimbris mengarsir cakrawala
Dan tambak udang itupun masih dipayungi arakan mendung yang kian menipis

Jika tidak ingat pada kewajiban kerja dan harus mencari nafkah
Tetap di kamar dengan selimut hangat adalah yang kenikmatan yang lezat
Sehingga mimpi tebu yang belum tuntas siapa tahu bisa ditamatkan…

Bratasena Adiwarna, 2012-Braja Selebah, 2013


Sajak Camar yang Berkepak

Wahai camar CAMAR yang berkepak di atas hamparan laut biru tanpa awan
Tak sanggup aku untuk melupakan dia yang di sana
Tapi puisi cinta, sajak kasih, nyanyian sayang dan tarian rinduku
Ada yang meminta dengan air matanya untuk tidak dibagi dengan siapapun
Untuk itu: mari kita lakukan yang terbaik untuk hidup kita
Bukankah begitu yang terindah dan yang tergurih diantara kita
Sehingga tidak ada yang menarikan belati di hati masing-masing, Dinda?

Bratasena Adiwarna, 2012- Braja Selebah, 2013



Sajak Aku Ingin Mencintaimu

Aku ingin mencintaimu dengan seluruh kesucian mawar
Seperti cinta kumbang yang tak pernah mendustai manisnya madu
Tapi masalahnya adalah: aku sudah punya dermaga
tanpa kabut dan tanpa badai untuk kasih, sayang dan rinduku
Maka bagiku yang tercantik dan terindah adalah cukup mengenalmu

Bratasena Adiwarna, 2012-Braja Selebah, 2013



Di Bumi Bratasena Hujan Masih Terus Berguguran

Di Bumi Centralpertiwi Bahari sampai lewat tengah hari
butit-butir bening yang berguguran belum juga ada tanda-tanda untuk berhenti
Karena hari ini adalah hari Sabtu masuk kamar dan tidur adalah pilihan yang terbaik
: Semoga engkau hadir dalam tidur siangku dengan sejuta tebu yang anggur
Sehingga tidurku kembali berselimut dan bermandikan kemesraanmu, Dinda…

Bratasena Adiwarna, 2012- Braja Selebah, 2013


Sejuta Tanya Berhamburan

Kekasihku, lebih dari sejuta tanya berhamburan dari kepalaku menuju-Mu
Ada satu tanya tebu yang menggodaku amat mawar
: apakah bidadari-Mu itu memang harus kucintai?
Sedangkan kasih, sayang dan rinduku sudah punya pelabuhan yang syah
Yang dibangun dengan syahadat, mas-kawin dan saksi-saksi

Kekasihku…kuharap ini adalah murni tarian yang menggoda
Dan aku mohon kepada-Mu agar aku bisa membentenginya
dengan perisai kehormatan dan dengan tameng kesetiaan
yang tidak mudah tunduk dan terkoyak oleh guguran kristal air mata…

Bratasena Adiwarna, 2012- Braja Selebah, 2013


Sajak Mungkinkah Terjadi
Kuingin mencintaimu seperti cintanya semut kepada gula
Kuingin menyayangimu seperti sayangnya raga kepada jiwa
Kuingin mengasihimu seperti kasihnya ombak kepada pantai
Kuingin merindukanmu seperti rindunya kemarau kepada hujan
Kuingin bersamamu seperti bersamanya kumbang dengan madu
Tapi mungkinkah semua ini terjadi, Dinda? Mengingat antara
engkau dan aku tidak hanya terhalang status—tapi kita juga berbeda kiblat

Bratasena Adiwarna, 2012-Braja Selebah, 2013


--------
Tarpin A. Nasri, lahir di Subang, Jawa Barat, 10 Desember 1967. Kini bekerja di Divis Corporate Communication PT.Centralproteina Prima dan ditempatkan di PT.Centralpertiwi Bahari, Lampung. Selain  gemar menulis sajak, pencandu karya sastra yang kini berdomisili di Braja Selebah, Lampung Timur, juga doyan menulis cerpen, novelet dan novel. Tulisannya banyak dipublikasakan di berbagai media.


Lampung Post, Minggu, 7 Juli 2013